Bunga bangkai Tahura Bandung kuncup setelah mekar dua hari

Bunga bangkai Tahura Bandung kuncup setelah mekar dua hari

Setangkai bunga bangkai di area perkebunan milik warga di Kampung Jangga, Desa Langensari, Kecamata Karangtengah, Cianjur, Jawa Barat, Senin (23/10/2017). (ANTARA/Ahmad Fikri)

Bandung (ANTARA News) - Bunga Bangkai hasil eksplorasi Tim Taman Ir H Djuanda (Tahura) Bandung pada tahun 2006 di Cagar Alam Taba Penanjung Bengkulu saat ini sedang mengalami fase kuncup setelah mekar dua hari.

Salah seorang staf konservasi di Tahura Bandung, Ganjar Mulyana, di Bandung, Selasa, mengatakan, setelah sempat mekar sempurna selama dua hari pada bulan Januari 2018, bunga ini kembali kuncup.

Ia mengatakan hal ini tidak disebabkan oleh faktor cuaca ataupun kurangnya pemeliharaan, melainkan karena siklus yang rutin terjadi pada bunga bangkai tersebut.

"Enggak ada faktor cuaca. Emang udah siklusnya jadi ada fase generatif ketika ada cukup makanan di dalam umbi, fase fegetatif, dan fase dorman,? kata Ganjar.

Menurut dia, fase berbunga pada bunga bangkai mencapai hingga tujuh tahun lamanya dan fase tersebut bisa dibantu dengan perawatan seperti pemupukan, penggemburan tanah dan lain-lain.

Umbi-umbi yang di tanam di Tahura, kata dia, sebelumnya diaklimatisasi terlebih dahulu dan proses tersebut dilakukan di Kebun Raya Cibodas, Bogor selama kurang lebih satu bulan.

Di Tahura terdapat empat umbi raksasa yang ditanam, namun mati satu di Kebun Raya Cibodas Bogor saat diaklimatisasi.

Umbi-umbi tersebut di tanam pertama kali pada tahun 2007 dan dari ketiga umbi tersebut, salah satunya mekar untuk pertama kalinya pada tahun 2010.

Umbi yang sempat mekar tersebut mengalami pemekaran yang kedua kalinya pada tahun 2018.

Ia mengatakan hingga saat ini belum ada rencana selanjutnya dari pihak Tahura untuk menambah penanaman umbi jenis tersebut.

"Taman Hutan Raya ini kan salah satu fungsinya untuk mengkoleksikan, bisa saja ke depannya ditambah lagi eksplorasi ke Bengkulu," kata Ganjar.

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar