Jakarta (ANTARA News) - Tingkat pelemahan nilai tukar rupiah saat ini yang sebesar 0,24 persen (year to date/ytd) dianggap masih nisbi kecil dan tidak akan menggeser nilai mata uang Indonesia ke "rezim" kurs yang baru.

"Dari perspektif historis selama 17 tahun terakhir, pelemahan rupiah saat ini relatif kecil. Fluktuasi rupiah pernah jauh lebih lebar dari ini," kata Kepala Ekonom CIMB Niaga Adrian Panggabean di Jakarta, Kamis.

Saat ini rezim rentang pergerakkan kurs rupiah berada di Rp13.100-Rp13.600 per dolar AS.

Adrian mengatakan sebelum 2016, pergerakkan rupiah jauh lebih dinamis dan dianggap sebagai mata uang yang sangat rentan oleh pelaku pasar dunia, terutama jika berada dalam tekanan ekonomi global.

"Itu sebagai akibat dari regulasi yang jauh lebih longgar dibanding saat ini," ujar dia.

Pada 2015, Adrian mencontohkan, rupiah pernah merosot 15 persen dari Rp13.000 ke Rp15.000 per dolar AS karena beragam tekanan seperti melemahnya perekonomian domestik, ketidakpastian di Amerika Serikat, memburuknya ekonomi Eropa dan terus melemahnya harga komoditas.

"Kondisi itu disebut multiple shocks yang membuat rupiah merosot 15 persen," ujarnya.

Di 2008, saat krisis besar di AS yang kemudian berkembang menjadi krisis global, telah menyebabkan rupiah merosot hampir 45 persen dari Rp9.000 ke Rp13.000. Pelemahan itu didorong oleh pergesaran valuasi aset di seluruh dunia, ditambah dengan perubahan fundamental makro ekonomi global.

Saat ini pelemahan rupiah terjadi karena aliran modal asing yang keluar. Di awal Februari 2018, kurs rupiah melemah di tingkat terbesarnya di antara pergerakkan sepanjang tahun yakni sebesar 1,56 persen.

Dana asing yang keluar itu terlihat dari jumlah dana masuk di pasar obligasi sebesar Rp44 triliun per 23 Januari 2018 yang turun menjadi Rp15 triliun saja per 14 Februrai 2018. Artinya terjadi dana keluar sebesar Rp29 triliun pada kurun 23 Januari hingga 14 Februari atau tiga pekan.

Pada Kamis ini, nilai tukar rupiah antarbank bergerak melemah sebesar 66 poin menjadi Rp13.678 dibanding posisi sebelumnya Rp13.612 per dolar AS.

BI membuka JISDOR Kamis ini di Rp13.665 per dolar AS atau melemah dibanding Rabu kemarin sebesar Rp13.582 per dolar AS.

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Unggul Tri Ratomo
Copyright © ANTARA 2018