Jakarta (ANTARA News) - Mantan Ketua KPK Abraham Samad meminta agar pimpinan KPK segera mengusulkan dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mencari pelaku yang menyerang penyidik KPK Novel Baswedan.

"Kami minta pimpinan KPK segera mengusulkan ke Presiden Indonesia untuk membuat Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) karena saya sangat yakin dalam rentang waktu 10 bulan dan pelaku belum ditemukan, tidak ada jalan lain selain satu-satunya jalan mengungkap dan menemukan pelaku penyerangan Novel adalah dibentuk TGPF," kata Abraham di gedung KPK Jakarta, Kamis.

Novel Baswedan tiba di gedung KPK sekitar pukul 13.05 WIB. Ia turun dari mobil didampingi oleh Wakil Ketua KPK Laode M Syarif yang sudah menjemputnya di bandara Soekarno Hatta.

Selain Laode, para pegawai KPK dan aktivis antikorupsi juga menyambut Novel dengan kompak berpakaian putih, termasuk di dalamnya Abraham Samad juga mengenakan kemeja putih yang memberikan pelukan saat bertemu Novel.

"Karena saya yakin, bila tidak dibentuk (TGPF), kasus Novel akan berlalu begitu saja seperti yang dialami pegawai KPK lain dan aktivis antikorupsi lain, jadi harus sesegera mungkin pemerintah membentu TGPF karena ini satu-satunya cara untuk menemukan pelaku penyerangan Novel," jelas Abraham.

Senada dengan Abraham, pengacara Novel, Saor Siagian juga mengatakan bahwa hingga lebih dari 10 bulan, belum ada kemajuan berarti dari investigasi yang dilakukan pihak kepolisian.

"Saya katakan ke Kapolri, awalnya saya berpikir dia dikerjai anak buahnya, tapi sebagai pengacara Novel, setelah 10 bulan tidak ada `progress` maka kita minta kepada Kapolri agar kasus ini segera dituntaskan, kalau tidak martabat kita sebagai negara hukum dan martabat Kapolri akan dipertanyakan. Saya minta Kapolri ini utang bersama yang harus dituntaskan," kata Saor.

Pada kesempatan itu aktivis antikorupsi juga menyerahkan petisi yang didukung oleh 65 ribu orang orang yang meminta agar dibentuk TGPF untuk membongkar kasus penyerangan kepada Novel Baswedan.

Novel disiram air keras oleh dua orang pengendara motor pada 11 April 2017 seusai shalat subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya. Ia kemudian dibawa ke Singapura untuk menjalani pengobatan di kedua matanya.

Selama Novel menjalani perawatan, polisi belum berhasil menangkap pelaku penyiraman. Beberapa orang sempat diamankan karena diduga sebagai pelaku, tapi mereka kemudian dilepaskan karena tidak ada bukti.

Polda Metro Jaya sudah merilis dua sketsa wajah yang diduga kuat sebagai pelaku, namun belum ada hasil dari penyebaran sketsa wajah tersebut.

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2018