OKI sasaran diplomasi ekonomi bidang kesehatan Indonesia

OKI sasaran diplomasi ekonomi bidang kesehatan Indonesia

Kementerian Luar Negeri RI (kemlu.go.id)

Jakarta (ANTARA News) - Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang beranggotakan 57 negara adalah salah satu kekuatan ekonomi global yang menyodorkan berbagai peluang ekonomi yang perlu dimanfaatkan Indonesia.

"Dengan total pendapatan domestik bruto sekitar 6.5 triliun dolar AS pada 2016, OKI maka hal itu sangat potensial bagi diplomasi ekonomi bidang kesehatan," tegas Dirjen Kerja Sama Multilateral Kemlu saat Febrian Ruddyard membuka diskusi panel "Optimalisasi OKI untuk Peningkatan Diplomasi Ekonomi bidang Kesehatan" yang diselenggarakan Kemlu di Jakarta,Kamis.

Sejalan dengan pandangan itu, Dirjen Febrian mendorong pelaku usaha dan segenap unsur pemerintah untuk bersama merumuskan strategi yang tepat dalam memanfaatkan potensi ekonomi negara anggota OKI.

Penyelenggaraan diskusi panel menerima tanggapan positif dari Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah dan OKI. Asisten Utusan Khusus bidang Hubungan Infrastruktur dan Investasi, dalam pernyataannya yang dibacakan oleh Asisten Utusan Khusus bidang Hubungan Investasi dan Infrastruktur,Aditya Perdana menegaskan bahwa industri kesehatan yang baik akan menghasilkan kualitas generasi yang lebih baik.

Dengan demikian, industri kesehatan harus didukung seluruh pihak terkait, agar Indonesia dapat menjadi influential player baik di dalam maupun di luar negeri.

Diskusi membahas tiga tema yaitu pemasaran vaksin, obat, dan alat kesehatan; penempatan TKI kesehatan; dan kerja sama Selatan-Selatan bidang kesehatan. Sejumlah narasumber menyampaikan pandangan yaitu Dirut PT. Bio Farma, Rahman Roestan; Sekjen Asosiasi Produsen Alat Kesehatan, Ardia Karnugroho; Ketua bidang Industri GP Farmasi, Roy Lembong; Direktur Kerja Sama Luar Negeri BNP2TKI, Freddy Panggabean; Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kemenkes, Acep Somantri; dan Kepala Biro Kerja Sama BPOM, Diana Soetikno.

Selain nara sumber tersebut, diskusi juga menghadirkan tiga orang penanggap, yaitu Aditya Perdana, Asisten Utusan Khusus Presiden RI; Di rektur Timur Tengah Kemlu Sunarko, dari Direktorat AfrikaFirdaus Dahlan dan Etty Wulandari dari Kerja Sama Teknik Kemlu.

Para narasumber sepakat untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan ekonomi nasional di forum OKI, terutama karena Indonesia memiliki potensi besar. Sebagai contoh, hanya dua anggota OKI yang industri vaksin-nya diakui WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), yaitu Indonesia dan Iran. Indonesia juga ditetapkan OKI sebagai Lead Country Coordinator Group untuk kerja sama obat-obatan, vaksin dan teknologi medis; dan sebagai centre of excellence untuk pengembangan vaksin dan bio-teknologi.

Diskusi juga mencatat tantangan pengembangan industri kesehatan tetap ada. Sebagai contoh, pasar alat kesehatan nasional yang masih didominasi produk impor. Namun demikian, peluang pasar di luar negeri tetap perlu dipertimbangkan, terutama di negara atau kawasan di mana Indonesia memiliki citra baik.

Indonesia adalah negara dengan jejak politik yang baik di OKI, berkat keterlibatan dalam berbagai isu penting, seperti Palestina dan Rohingya.

"Namun demikian, citra politik yang baik itu harus dapat ditransformasikan ke dalam aspek yang lebih luas, bidang ekonomi misalnya. Dunia usaha nasional perlu menjadikan citra positif Indonesia sebagai modal dalam pemasaran merek," demikian Dirjen Febrian.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar