Indonesia sampaikan berbagai isu di ASEAN-Uni Eropa Forum  

Indonesia sampaikan berbagai isu di ASEAN-Uni Eropa Forum     

Arsip: Nicholas Saputra dan Chelsea Island jadi duta Parade ASEAN.(kiri ke kanan) Nicholas Saputra, Chelsea Islan, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, Dirjen Kerja sama ASEAN Kemlu Jose Tavares (ANTARA News/Aditya Wicaksono)

London (ANTARA News) - Potensi penguatan kerja sama ASEAN-Uni Eropa (UE) sangat terbuka dalam menjamin serta menjaga kawasan ini sebagai wilayah yang damai, aman, stabil dan sejahtera dengan saling menghormati prinsip kerja sama yang tertuang dalam Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) 1976.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Kerja Sama ASEAN, Jose Tavares, pada pertemuan ASEAN-EU Roundtable Strategic Thinkers Forum (STF) di Brussels, Belgia pada 28 Februari, demikian keterangan Kasubdit Amerika dan Eropa Dit Kerja Sama Eksternal ASEAN, Danang Waskito kepada Antara London, Jumat.

Dirjen Tavares juga menjelaskan mengenai pentingnya sentralitas dan kesatuan ASEAN dalam menjalin kerja sama dengan negara mitra wicara, serta untuk menghadapi berbagai tantangan baru di kawasan.

"Kerja sama ASEAN dan UE dapat diperkuat, misalnya, melalui pembahasan isu-isu strategis terkait dengan perdamaian dan rekonsiliasi melalui lembaga ASEAN Institute for Peace and Reconcilliation (AIPR)".

Selain itu, ia juga menjelaskan beberapa potensi kerja sama ASEAN dan UE di bidang politik keamanan, misalnya di bidang kontra terorisme, keamanan laut, dan keamanan siber.

Menanggapi pertanyaan peserta, mengenai pandangan Indonesia terkait dengan konsep Indo-Pacifik. Indonesia berpandangan pengembangan kawasan Lingkar Samudera Indo-Pacifik perlu memperhatikan prinsip-prinsip terbuka, transparan, inklusif, penghormatan pada aturan hukum internasional serta dilandasi semangat kerja sama.

Hanya dengan itu, Indonesia dapat menciptakan ekosistem kawasan yang damai, stabil dan sejahtera, yang memberikan manfaat untuk semua pihak, ujarnya.

Dalam kesempatan diskusi, Dirjen Tavares menyampaikan keprihatinan Indonesia atas kebijakan Parlemen Eropa (PE) yang menyetujui the draft of Directive on the Promotion of the Use of Energy from Renewable Sources Januari lalu.

Dikatakan, keterkaitan kelapa sawit dengan isu sustainability dan pencapaian UN Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya di Indonesia.

"Isu kelapa sawit menjadi keprihatinan bersama ASEAN," ujar Dirjen Tavares. Dalam kaitan ini, Indonesia minta tindakan diskriminatif terhadap kelapa sawit di kawasan Eropa dapat dihentikan.

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Jalan panjang repatriasi pengungsi Rohingya

Komentar