counter

Hoax MCA bermotif politik

Hoax MCA bermotif politik

Kasatgas Nusantara Mabes Polri Irjen Pol Gatot Eddy Pramono (kanan) didampingi Wakasatgas Brigjen Pol Fadil Imran (kiri), memberikan keterangan kepada wartawan terkait Pengungkapan Jaringan Penyebar Isu Penganiayaan Ulama di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Senin (5/3/2018).(ANTARA /Reno Esnir)

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Satgas Nusantara Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan motif politik mendasari penyebaran berbagai kabar palsu alias hoax yang dilakukan grup Muslim Cyber Army (MCA) di media sosial.

"Motifnya politik," kata Irjen Gatot di Jakarta, Senin.

Menurut dia, berbagai kabar palsu berisi fitnah, ujaran kebencian dan penyerangan terhadap ulama, sengaja mereka sebarkan di medsos agar menimbulkan keresahan di masyarakat sehingga terjadi perpecahan yang pada akhirnya mengakibatkan konflik sosial.

"Dengan menyebarkan isu hoax mereka berharap dapat mendegradasi pemerintahan yang sah, menimbulkan keresahan di masyarakat, memecah belah bangsa yang akhirnya menimbulkan konflik sosial yang besar," kata Staf Ahli Kapolri Bidang Sosial Ekonomi ini.

Baca juga: Mayoritas info mengenai penyerangan terhadap ulama ternyata hoaks

Baca juga: Polisi Kota Depok jaga 14 ulama yang diancam akan dibunuh orang tak dikenal


Sebelumnya, penyidik Siber Bareskrim menangkap enam orang anggota MCA di sejumlah lokasi yang berbeda yakni Muhammad Luth (40) ditangkap di Tanjung Priok, Jakut; Rizki Surya Dharma (35) di Pangkalpinang; Ramdani Saputra (39) di Bali; Yuspiadin (25) di Sumedang; Ronny Sutrisno (40) serta Tara Arsih Wijayani (40).

Di media sosial, kelompok ini rutin menyebarkan postingan foto video dan berita palsu berisi penghinaan, fitnah dan pencemaran nama baik terhadap pemimpin dan para pejabat negara.

"Mereka rutin memposting penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap Presiden Jokowi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, pejabat pemerintah dan anggota DPR," kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Fadil Imran.

Kelompok ini juga kerap memposting hal-hal bernuansa SARA di medsos, termasuk isu provokatif tentang penyerangan terhadap ulama dan kebangkitan PKI.

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

KSAD tindak dua anggota dan istrinya yang sebar ujaran kebencian Wiranto

Komentar