Orang utan Tanjung Puting tarik perhatian pengunjung ITB Berlin

Orang utan Tanjung Puting tarik perhatian pengunjung ITB Berlin

Ilustrasi foto. Orangutan Tyson (kiri) berinteraksi dengan orangutan betina usai dilepasliarkan di Daerah Penyangga Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, akhir 2017. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Kami tidak ingin wisata Tanjung Pitung menjadi wisata massal ..."
Berlin (ANTARA News) - Sensasi orang utan yang berada di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, menarik perhatian para pengunjung Paviliun Indonesia di pameran pariwisata terbesar di dunia ITB Berlin, Jerman, yang berlangsung pada 7 hingga 11 Maret 2018.

Taman Nasional Tanjung Puting  di semenanjung Kalimantan Tengah yang sudah cukup populer dikalangan wisatawan mancanegara, ujar Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Kalimantan Tengah, Yerson, kepada ANTARA di Berlin, Jumat.

Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah (Pemda Kalteng) untuk pertama kalinya ikut mempromosikan berbagai obyek wisata yang ada ke ITB Berlin, termasuk obyek wisata taman nasional Tanjung Puting yang menjadi tempat konservasi orang utan.

Di Taman Nasional Tanjung Puting, menurut dia, terdapat konservasi orang utan terbesar di dunia dengan populasi diperkirakan 30.000 sampai 40.000 orang utan yang tersebar di taman nasional di luar kawasan tersebut.

Selain itu, ia mengemukakan Taman Nasional Tanjung Puting sejak 1982 ditetapkan Pemerintah RI sebagai cagar biosfer meliputi luas 415.040 hektare.

Ia pun menambahkan, Taman Nasional Tanjung Puting dikelola Balai Taman Nasional Tanjung Puting, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Berbagai paket wisata khususnya untuk menjelajahi Borneo telah disiapkan, ujar Yomie Kamale dari Orangutan Days, yang ikut dalam delegasi promosi Kalimantan Tengah ke bursa pariwisata dunia (Internationale Tourismus-Börse/ITB) di Berlin.

Wisatawan yang datang menuju Tanjung Puting, menurut dia, dibagi dalam empat jenis paket wisata mengunakan kapal kecil (klotok) untuk menuju habitat orang utan.

"Kami tidak ingin wisata Tanjung Pitung menjadi wisata massal, karena  dapat menganggu ekosistem dan juga tidak baik untuk orang utan itu sendiri," ujarnya.

Yomie Kamale mengemukakan bahwa wisatawan mancanegara yang banyak berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting umumnya berasal dari Eropa, terutama Spanyol, dan warga Jepang.

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Tim BKSDA di Sampit selamatkan orang utan masuk permukiman warga

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar