Artikel - Ketika gajah dan manusia saling jatuh cinta

Artikel - Ketika gajah dan manusia saling jatuh cinta

Seorang pawang (Mahout) menaiki punggung Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) yang terlatih di halaman rumah warga di Pekanbaru, Riau, Senin (29/2). Dua ekor Gajah Sumatera yang terlatih sengaja didatangkan dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas Kabupaten Siak untuk mengusir gajah liar yang dalam beberapa hari belakangan ini kerap menganggu di permukiman warga di Desa Okura, Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Riau (ANTARA News) - Konflik gajah dengan manusia di Sumatera, khususnya Riau cukup tinggi. Bagi sebagian besar masyarakat, gajah dianggap sebagai hama. Tapi di Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, dua makhluk Tuhan itu bisa menjalin cinta.

Khairul, salah satu contoh manusia yang telah menjalin cinta dengan satwa bongsor yang beratnya bisa mencapai enam ton tersebut selama lebih dari 21 tahun lamanya.

Saat ditemui Antara akhir pekan lalu di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, pria paruh baya itu tampak bergegas membawa pelepah sawit ketika matahari pagi baru saja beranjak di ufuk timur. Tubuh kurusnya hampir tertutupi dahan hijau salah satu makanan kegemaran gajah Sumatera (Elephanus maximus sumatranus).

Dengan langkah cepat, dia menuju ke tanah lapang, tempat 16 ekor gajah beristirahat.

Khairul Amri, begitu nama lengkap bapak dua anak berusia 44 tahun tersebut. Saban hari, dia tidak jemu bercengkarama dengan gajah-gajah jinak di Pusat Latihan Gajah Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Bahkan, dia mengaku lebih sering menghabiskan waktu bersama gajah-gajah Sumatera itu dibanding dengan istri dan anaknya.

"Termasuk hari ini, saya tetap mengurusi gajah-gajah. Saya sama gajah memang sudah jatuh hati," katanya.

Pagi itu, cerita cinta Khairul diawali dengan membersihkan tempat penangkaran gajah dari kotoran. Sarapan berupa pelepah sawit dan batang pisang seketika tersedia di hadapan hewan berbelalai tersebut.

Tak jarang Khairul berbicara dengan gajah, layaknya sahabat karib. Anehnya, sang gajah seolah mengerti dan komunikasi dua arah pun terjalin. Memandikan gajah di sungai menjadi agenda rutin selanjutnya setelah memberi mereka sarapan.

Dengan manja, gajah-gajah itu meminta Khairul membersihkan setiap sudut bagian tubuhnya. Mulai dari kuku, telinga, mulut hingga belalai. Tak jarang gajah itu usil dengan menyemburkan air melalui belalainya.

Kisah "asmara" Khairul dengan gajah berawal saat dia merantau ke Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau, dari kampung halamannya di Kota Medan, Sumatera Utara pada 1997 silam. Dalam benaknya, pria dengan pendidikan terakhir bangku SMA tersebut tidak pernah bercita-cita menjadi mahout atau pawang gajah.

Namun, jalan takdir berkata lain. Pria berkumis tebal dan seketika tampak galak itu bersyukur bisa mengenal gajah. Bahkan, karena gajah, saat ini dia menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dengan pangkat Golongan II/D.

"Karena gajah pula saya bisa jalan-jalan ke Bali, Jakarta, Batam. Semuanya karena gajah, yang sama sekali tak pernah saya bayangkan sebelumnya," tutur Khairul yang sebenarnya sangat ramah.

Namun, untuk mencapai semua yang diraih hari ini, mahout paling senior di PLG Minas itu mengaku tidak mudah. Begitu banyak duka yang ia alami. Namun, karena beratnya kehidupan di kampung halamannya, dia mengatakan tidak ada pilihan lain, selain menjalaninya.

Menjadi mahout tidak hanya bertugas sebagai pengasuh dengan memberi makan, memandikan, dan melatih gajah. Seorang mahout juga bertugas melakukan pengamatan sehari-hari memantau kesehatan gajah.

Pengamatan sehari-hari juga untuk mengidentifikasi `bakat terpendam` yang dimiliki gajah. Apakah gajah tersebut berbakat di bidang patroli penghalauan gajah dan perlindungan lahan pertanian, gajah wisatawan atau bahkan gajah yang berbakat di bidang hiburan di arena sirkus.

Di sisi lain, mahout harus memperlakukan sang gajah layaknya anggota keluarganya sendiri. Mahout pun harus memperlakukan gajah-gajah yang ada di alam liar dengan kasih sayang.

Mahout mempunyai tanggung jawab besar dalam merawat gajah. Menjadi seorang mahout juga bukanlah tugas yang ringan. Risiko gajah asuhannya yang mengamuk, hingga datangnya gajah liar ke permukiman dan ladang warga selalu mengancam.

Pada 1997, kata dia, terdapat 20 orang yang mendaftar sebagai mahout bersama dirinya. Sebagian besar dari mereka memilih mengundurkan diri. Hanya ada sekitar lima mahout yang bertahan dan menyebar di sejumlah kantong gajah lainnya di Riau, termasuk dia.

Untuk menjadi mahout, Khairul mengaku tidak pernah mendapatkan pendidikan resmi. Dia hanya mendapat pelatihan dari senior-seniornya, yang langsung dipraktikkan ke gajah. Tak mudah memang. Dia mengaku beberapa kali hampir kehilangan nyawa saat berusaha melatih gajah liar menjadi jinak.

Pengalaman sulit tak terlupakan adalah saat dia dikejar seekor gajah jantan liar bernama Tunggal pada awal 2000 an. Saat itu, Khairul sedang membawa gajah jinak peliharaannya ke hutan. Tanpa disangka, tiba-tiba Tunggal, gajah bongsor terkenal galak pada waktu itu berada di belakang Khairul.

"Saya harus lari masuk ke dalam hutan, sangat jauh. Tunggal terus mengejar, sampai akhirnya saya berhasil bersembunyi di gorong-gorong tanah," ujarnya.

Namun, pengalaman itu tak membuat dirinya jera untuk terus bercengkarama dengan gajah. Bahkan saat dia harus beberapa kali diserang, ditendang atau bahkan hampir diinjak gajah ketika sedang melatih satwa dilindungi tersebut.

Di PLG Minas, terdapat 16 ekor gajah. 11 di antaranya merupakan gajah jantan, dan sisanya betina. PLG Minas merupakan areal konservasi gajah terbesar di Riau. Untuk menuju ke lokasi itu hanya butuh satu jam perjalanan dari Kota Pekanbaru.

PLG Minas yang berdiri sejak awal 2000 berada di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim. Dahulunya, terdapat lebih dari 30 ekor gajah di PLG Minas. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa gajah direlokasi ke sejumlah areal konservasi lainnya di Riau dan sejumlah daerah di Indonesia.

Saat ini, masih terdapat 16 ekor gajah dengan gajah tertua adalah Seng Arun. Gajah jantan itu kini berusia 45 tahun dengan berat sekitar 3,3 ton. Sementara Diego, merupakan gajah paling kecil dengan usia 8 tahun. Untuk merawat gajah-gajah itu, Khairul tidak sendirian. Terdapat kurang lebih 30 mahout lainnya bekerjasama setiap hari.

Dari seluruh mahout, tidak semuanya beruntung seperti Khairul yang telah menyandang status PNS. Pargaitan Nahampun misalnya, pria berusa 51 tahun itu telah menjadi mahout di PLG Minas selama 13 tahun. Saat ini, dia hanya menjadi pegawai kontrak dengan penghasilan standar upah minimum regional (UMR) Riau.

Saat awal menjadi mahout, dia mengaku diangkat sebagai tenaga honorer. Dengan menjadi honorer, dirinya berharap ada perubahan status menjadi PNS. Belakangan, kebijakan pemerintah soal status honorer hapus, dan diganti dengan status kontrak.

Setiap pegawai yang sebelumnya honor saat ini berstatus sebagai kontrak, dengan perpanjangan setiap satu tahun. Sedikitnya, ada 21 mahout yang memiliki status sama seperti Pargaitan.

Dengan penghasilan sebesar itu, dia mengaku harus bijak untuk memilah kebutuhan dapur, serta biaya pendidikan dua anaknya. Senada Pargaitan, Una Harahap juga merasakan hal yang sama. Kedua pria itu telah menjadi mahout selama 16 tahun.

Untuk menambah penghasilan, mereka mengaku berharap pada kunjungan masyarakat. Sebenarnya, tidak ada patokan harga bagi masyarakat yang berkunjung ke PLG Minas.

Namun, tidak dipungkiri masyarakat yang berkunjung terkadang memberikan uang sekadarnya kepada pengelola yang dapat menjadi tambahan bagi mahout berstatus kontrak.

Mereka berharap perhatian dan cinta yang telah dicurahkan kepada gajah-gajah itu setara dengan perhatian pemerintah kepada mahout. Setidaknya, mereka meminta pemerintah dapat memberikan kejelasan status PLG Minas yang sejak dulu diwacanakan sebagai tujuan wisata, namun hingga kini menguap entah kemana.

Mereka memastikan, meski hidup dengan penghasilan terbatas, cinta-cinta mereka kepada gajah tersebut tidak akan mudah luntur. Setidaknya untuk saat ini, gajah-gajah tersebut tetap sehat dan bahagia bersama mahout.
 

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar