Xinjiang dinyatakan aman dari ancaman terorisme

Xinjiang dinyatakan aman dari ancaman terorisme

Xinjiang, China, map. (worldmap.com)

Beijing (ANTARA News) - Situasi Daerah Otonomi Xinjiang dinyatakan aman dari berbagai ancaman terorisme sepanjang tahun lalu sebagaimana laporan pejabat pemerintahan setempat dalam pertemuan parlemen China (NPC) di Beijing.

"Kami terus melakukan langkah-langkah komperehensif menanggulangi terorisme untuk menjaga stabilitas wilayah," kata Kepala Pemerintahan Daerah Otonomi Xinjiang, Shohrat Zakir, dikutip media resmi China, Rabu.

Saat berbicara di forum pertemuan tahunan anggota parlemen itu, dia mengemukakan bahwa tindakan penanggulangan terorisme dilakukan sejak Chen Quanguo ditunjuk sebagai Sekretaris Partai Komunis China di Xinjiang pada Agustus 2016.

Dalam upaya penanggulangan terorisme itu, pemerintah daerah setempat melibatkan jaringan kepolisian di seluruh kota agar segera bertindak jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

"Melawan separatisme dan terorisme telah menjadi prioritas utama kami. Kami terus memberikan perlawanan keras terhadap berbagai aktivitas agar bisa mengontrol wilayah perbatasan," kata Sekretaris Komisi Politik dan Hukum Xinjiang, Zhu Hailun, menambahkan.

Menurut dia, situasi sosial di daerah yang banyak dihuni etnis Uighur tersebut relatif stabil, meskipun masih ada ancaman terorisme dalam skala kecil.

Zhu mengingatkan bahwa perlawanan terhadap separatisme dan terorisme menjadi salah satu program jangka panjang.

"Karena situasi internasional masih tidak menentu, Xinjiang harus terus memperkuat upaya-upaya penanggulangan terorisme. Intinya, tidak ada peluang untuk memisahkan diri," ucap Zhu mengenai daerahnya di wilayah barat daratan Tiongkok yang berbatasan langsung dengan Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kirgistan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Pakistan itu.

Xinjiang akan melakukan tindakan pengamanan di beberapa kawasan utama dan kawasan perbatasan, termasuk mengeluarkan regulasi penggunaan internet untuk menjaga stabilitas sosial pada tahun ini.

Pemerintah daerah otonomi itu tetap mengandalkan teknologi modern untuk meningkatkan kontrol perbatasan dan meningkatkan pembangunan infrastruktur di perbatasan, seperti meningkatkan kualitas jalan umum, demikian pernyataan Shohrat.

Xinjiang yang beribukota di Urumqi tersebut merupakan salah satu wilayah setingkat provinsi terluas di China dengan jumlah penduduk 19,05 juta jiwa.

Etnis Uighur menjadi penghuni terbesar di daratan seluar 1,66 juta kilometer persegi itu yang mencapai 45 persen. Disusul etnis Han (41 persen), Kazakh (7 persen), dan Hui (5 persen).

Perlawanan terhadap pemerintahan China di Xinjiang telah berlangsung lama. Saat ini beberapa pemimpin kelompok separatisme telah berada di pengasingan, seperti di Turki, Jerman, dan Amerika Serikat.

Baca juga: Polisi Xinjiang tangkap 14 penyebar paham garis keras

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar