10 kutipan termasyhur Stephen Hawking

10 kutipan termasyhur Stephen Hawking

Stephen Hawking (Reuters)

Cambridge (ANTARA News) - Ahli kosmologi dan fisikawan legendaris penulis buku "A Brief History of Time", Stephen Hawking, meninggal dunia dalam usia 76 tahun. Dia dipanggil Sang Penguasa Waktu di rumahnya di Cambridge. Keluarganya mengonfirmsi bahwa fisikawan tersohor asal Britania Raya itu meninggalkan dunia fana pada Rabu pagi waktu setempat.

Hawking banyak dikenal sebagai sosok yang memberi tilikan kritis bagi perkembangan kosmologi modern dan menginspirasi warga dunia akan misteri jagat raya.

Anak-anak Hawking, yakni Lucy, Robert, dan Tim mengatakan, "Kami sangat berduka dengan wafatnya ayah kami hari ini. Ia ilmuwan besar dan sosok luar biasa yang karyanya bakal dikenang sepanjang masa. Kegigihannya dan keteguhannya demikian brilyan, bahkan cita rasa humornya menginspirasi banyak orang di dunia."

Berikut ini 10 kutipan termasyhur yang dikemukakan oleh Hawking sebagaimana dikutip dari laman Guardian:

"Berjuta-juta tahun, umat manusia hidup layaknya hewan. Kemudian terjadi sesuatu yang mengubah yang berkaitan dengan kekuatan dari imajinasi kita. Kita belajar berbicara dan kita belajar mendengar. Berbicara memungkinkan kita untuk mengomunikasikan berbagai gagasan, memampukan umat manusia untuk bekerja bersama dan membangun segala sesuatunya agar terwujud. Capaian-capaian termasyhur manusia bermula dan berawal dari komunikasi bicara antara kita, dan kegagalan terbesar kita justru juga dari hal ini. Harapan terbesar kita justru terwujud di masa depan...."

"Tujuan kami simpel. Hal ini berkaitan pemahaman yang komplet berkaitan dengan alam semesta. Mengapa alam semesta itu ada, dan mengapa seluruh alam semesta itu ada."

"Saya memandang bahwa otak manusia sebagai komputer yang mampu menghentikan kerja kita ketika banyak komponen ternyata menemui kegagalan. Tidak ada surga atau hidup sesudah kematian karena banyak komputer yang mengalami kehancuran. Ini kisah yang klasik bagi kekawatiran umat manusia akan adanya kegelapan."

"Saya percaya (akan) penjelasan yang sangat sederhana, bahwa tidak ada Tuhan. Tidak ada yang menciptakan alam semesta dan tidak ada yang mengarahkan nasib kita. Ini mendorong saya untuk mempercayai bahwa kemungkinan tidak ada surga dan tidak ada hidup sesudah kematian. Kita harus menghargai karya alam semesta, dan saya sungguh takjub."

"Ingatlah untuk selalu memandang bintang-bintang di langit dan tidak melihat ke bawah. Cobalah untuk memahami apa yang anda lihat dan saksikan serta mengagumi segala apa yang ada di alam semesta ini. Tumbuhkanlah rasa ingin tahu, meskipun hidup tidak selalu mudah juga. Segala sesuatu yang anda kerjakan maka anda kelak menuai sukses. Ini pentingnya anda tidak cepat menyerah begitu saja."

"Hidup ini menjadi tragis jika tidak ada hal yang jenaka."

"Segala harapanku tergerus menjadi zero ketika saya berusia 21 tahun. Segala sesuatunya kelak menjadi bonus semata."

"Orang yang semata-semata terpicu dan tergerak oleh IQ sejatinya mereka adalah pecundang."

"Saya melakoni hidup dengan berbagai masa depan manakala awal kematian pada usia 49 tahun. Saya tidak khawatir akan kematian, tetapi saya tidak ingin segera mati."

"Kita hanyalah benih dari (species) kera yang mengalami perkembangan, yang menghuni planet kecil ini. Akan tetapi kita mampu memahami Alam semesta, yang membuat kita menjadi makhluk yang istimewa."

Baca juga: Stephen Hawking, sebuah obituari
Baca juga: Fakta-fakta soal Stephen Hawking

Pewarta: AA Ariwibowo
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar