BPBD teliti potensi longsor perbukitan Menoreh

BPBD teliti potensi longsor perbukitan Menoreh

Ilustrasi sejumlah kendaraan melintas di jalan yang sisinya mengalami longsor (ANTARA/Lucky.R )

Kulon Progo (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan melakukan penelitian potensi tanah longsor yang bersifat sliding karena memiliki dampak fatal di kawasan Perbukitan Menoreh.

Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo Gusdi Hartono di Kulon Progo, Rabu, mengatakan saat ini, BPBD mulai mempelajari rekahan tanah di Kecamatan Girimulyo, Samigaluh dan Kalibawang yang berpotensi longsor yang berifat sliding atau parsial.

"Selama ini, tanah longsor yang terjadi di Kulon Progo berbentuk parsial dan bersifat runtuhan," katanya.

Menurut dia, berdasarkan kajian awal. ada tiga titik kecamatan di Perbukitan Menoreh yang menjadi prioritas dikaji dan diamati, seperti Kecamatan Kalibawang, Girimulyo dan Samigaluh. Di kecamatan tersebut ditemukan titik rekahan panjang dan dalam di Dusun Soropati, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap; Dusun Jeruk, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh; Dusun Nogosari, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo; Dusun Gerpule, Desa Banjarharjo, Dusun Klepu, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang.

Gusdi mengatakan BPBD akan menggandeng akademisi dalam melakukan kajian potensi longsor.

"Kami ingin mengetahui, apakah terdapat konektivitas antarrekahan. Karena apabila memang terdapat konektivitas rekahan di wilayah satu dengan lainnya, berarti ada ancaman yang lebih besar ketimbang longsor yang selama ini terjadi. Kondisi rekahan tersebut semakin mengkhawatirkan mengingat Perbukitan Menoreh terdiri dari komposisi batuan lapuk," katanya.

Lebih lanjut, Gusdi mengatakan pada 2017, tercatat ada 995 titik bencana, mayoritas di antaranya bencana tanah longsor. Sedangkan pada 2018, hingga 12 Maret terdata delapan tanah longsor, dua pergerakan tanah, satu pohon tumbang.

BPBD Kulon Progo sendiri sudah memasang 90 unit alat sistem peringatan dini (EWS) dan beberapa EWS cadangan.

"Peka terhadap tanda alam diperlukan karena terkadang tidak ada longsor tapi EWS mengeluarkan bunyi, atau sebaliknya. Untuk itu, warga harus lebih terhadap alam," imbaunya.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar