counter

Ratusan umat Hindu ikuti Mepepada di Besakih

Ratusan umat Hindu ikuti Mepepada di Besakih

Umat Hindu mengupacarai seekor penyu yang akan menjadi hewan kurban dalam upacara Mepepada, yakni ritual penyucian hewan kurban dan alam semesta sebagai rangkaian upacara Tawur Kesanga yang berlangsung sehari menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1940, di Pura Besakih, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, Kamis (15/3/2018). (ANTARA Foto)

Upacara ini bukan hanya untuk Desa Besakih, tetapi untuk seluruh Bali ..."
Amlapura, Bali (ANTARA News) - Ratusan umat Hindu mengikuti Mepepada, yakni ritual penyucian hewan kurban dan alam semesta sebagai rangkaian upacara Tawur Kesanga yang berlangsung sehari menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1940.

"Upacara itu merupakan ritual tahunan untuk `nyomya` atau memberi upah kepada buta kala sehingga hal negatif kembali ke asalnya," kata Bendesa Adat Besakih Jero Mangku Widiartha di Pura Besakih, Karangasem, Bali, Kamis.

Ia mengatakan ritual Mepepada yang dilanjutkan dengan ritual Bumi Sudha dan menjadi rangkaian Tawur Kesanga menjelang Nyepi itu melibatkan ratusan warga dari delapan "pemaksan" atau kelompok keluarga dan 11 lingkungan adat di wilayah pekraman Besakih.

Menurut dia, upacara Mepepada itu dilaksanakan dengan ritual berkeliling di halaman pura terbesar di Pulau Dewata itu dengan menuntun sejumlah hewan kurban seperti sapi, kerbau, lima jenis ayam, itik, angsa, kijang, rusa, babi, anjing, penyu, dan monyet.

Upacara Mepepada tersebut dipimpin dua Pendeta Siwa-Budha yakni Ida Pedanda Gede Jelantik Dwaja dan Ida Pedanda Gede Wayahan Tianyar.

Prosesinya diawali dengan "nyukat genah" atau menentukan areal upacara, memercikkan air suci kepada seluruh kawasan dan hewan kurban, persembahyangan dan diakhiri dengan menuntun hewan tersebut berkeliling kawasan suci.

Mangku Widiartha juga menjelaskan upacara Mepepada akan dilanjutkan dengan upacara Bumi Sudha yang dirangkaikan dengan upacara Tawur Kesanga yang bermakna untuk mengembalikan kesucian alam.

"Upacara ini juga termasuk untuk mendoakan agar Gunung Agung segera kembali normal bahkan sejak awal rangkaian upacara ini selalu untuk memohon gunung kembali normal," katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh tokoh adat Desa Besakih Jero Gede Pande Sudarta. Baginya, upacara Mepepada dan Bumi Sudha yang menjadi rangkaian upacara Tawur Kesanga tersebut digelar seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu di halaman depan Pura Besakih.

"Upacara ini bukan hanya untuk Desa Besakih, tetapi untuk seluruh Bali agar alam suci kembali, dan pelaksanaan Hari Raya Nyepi dapat berlangsung dengan damai," katanya.

Baca juga: Menkominfo hormati keinginan tidak ada internet saat Nyepi

Jero Gede Pande Sudarta mengatakan upacara itu sekaligus untuk memohon agar Gunung Agung kembali normal menyusul level siaga masih diberlakukan akibat aktivitas vulkanik pada gunung tertinggi di Bali itu.

Ritual Tawur Kesanga menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana dilakukan secara berjenjang di tingkat Provinsi Bali dipusatkan di Pura Besakih, hari Jumat (16/3), dilanjutkan tingkat kabupaten/kota, kecamatan, desa dan banjar hingga di rumah tangga masing-masing.

Untuk itu perwakilan dari masing-masing desa pekraman dan kecamatan agar datang ke Pura Besakih sekitar pukul 10.00 waktu setempat dengan membawa tempat tirtha tawur, daksina pejati, perlengkapan persembahyangan serta memohon nasi tawur dan tirta untuk disebarkan serta dipercikkan di wilayah masing-masing.

Baca juga: Inilah dia, ogoh-ogoh "jaman now"

Pada Sabtu, 17 Maret 2018, umat Hindu merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1940 dengan melaksanakan "Catur Brata" Penyepian, yakni empat pantangan (larangan) yang wajib dilaksanakan dan dipatuhi, meliputi tidak melakukan kegiatan/bekerja (amati karya), tidak menyalakan lampu atau api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan) serta tidak mengadakan rekreasi, bersenang-senang atau hura-hura (amati lelanguan).

Pelaksanaan "Catur Brata" Penyepian akan diawasi secara ketat oleh petugas keamanan desa adat (pecalang) di bawah koordinasi prajuru atau pengurus desa adat setempat.

Baca juga: Bandara Ngurah Rai hentikan penerbangan Sabtu

Pewarta: Ni Luh Rhismawati & Oleh Nyoman Budiana
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Orang asing nikmati Ogoh-ogoh di Surabaya

Komentar