"Kenapa Harus Bule?", sindiran satir jiwa rendah diri

"Kenapa Harus Bule?", sindiran satir jiwa rendah diri

(HO/Kalyana Shira)

Jakarta (ANTARA News) - Bule adalah sosok yang kerap digambarkan sebagai sosok superior. Berteman dengan orang asing berkulit putih rasanya lebih gaul, keren, punya pasangan bule juga terkesan keren. Alasan klasik yang terdengar mengapa mencari pasangan bule adalah "untuk memperbaiki keturunan". Mungkin biar hidung jadi lebih mancung atau kulit jadi lebih putih seperti orang Kaukasia.

"Fenomena white supremacy sudah lama banget ada di Asia Tenggara, tapi rasanya belum pernah diangkat ke dalam film," tutur sutradara Andri Cung yang pernah membuat film-film pendek "Payung Merah", "Merindu Mantan" dan "Rawa Kucing". 

Supremasi kulit putih yang mengakar di negara yang ratusan tahun dijajah Belanda ini disinggung lewat film komedi satir "Kenapa Harus Bule?" yang ceritanya berpusat pada Pipin (Putri Ayudya), perempuan yang terobsesi diperistri pria bule. 

Karakter Pipin terinspirasi dari sahabat Andri yang punya obsesi serupa karena jadi korban standar cantik di Indonesia, lalu dicap negatif karena lebih tertarik pada bule.

"Ide cerita awalnya adalah saya merasa dunia makin menghakimi, melihat yang berbeda langsung menghakimi tanpa memahami," kata Andri. 

Menurut Djenar Maesa Ayu yang punya peran kecil di film ini, "Kenapa Harus Bule?" bukan cuma soal pencarian jodoh. Fenomena yang dialami karakter Pipin adalah masalah yang terbentuk akibat konstruksi sosial atas perempuan di banyak tempat.

"Masalah standar kecantikan yang ditentukan dengan kulit putih, membuat perempuan seperti Pipin merasa tidak layak dan hanya bisa diterima bule," katanya usai pemutaran di Jakarta.

Pipin punya kulit cokelat khas perempuan Indonesia, yang sebenarnya diincar turis-turis asing yang asyik berjemur di pantai agar kulitnya lebih gelap. Tapi penampilan Pipin tidak memenuhi standar cantik di sekelilingnya. Malah waktu kecil dia diejek teman-temannya yang menjulukinya Mimin, nama monyet dari atraksi topeng monyet.

Pipin jadi rendah diri. Dia mengklaim penampilannya tidak akan menarik perhatian pria lokal, itulah mengapa dia hanya mengincar pria bule karena di mata mereka niscaya Pipin terlihat "eksotis".
Cuplikan film Kenapa Harus Bule? (HO/Kalyana Shira)


Segala hal dia lakukan, mulai dari mencari lewat aplikasi kencan online, "berburu" di bar-bar Jakarta. Pipin nyaris putus asa karena masih melajang, apalagi sebentar lagi dia menginjak kepala tiga. Berbekal saran dari sahabatnya, pria kemayu bernama Arik (Michael Kho) yang tinggal di Bali, Pipin rela pindah ke pulau Dewata.

Di sana dia bertemu dengan teman masa kecilnya, Buyung (Natalius Chendana) yang  menaruh hati pada Pipin. Buyung adalah gambaran pria sempurna untuk menjadi pendamping hidup Pipin, hanya satu kekurangannya: bukan bule. Produser Nia Dinata menjelaskan karakter Buyung adalah gambaran dari pria Indonesia yang memegang budaya ketimuran, lembut dan tidak memaksakan kehendak.

Di sisi lain, ada bule Italia bernama Gianfranco (Cornelio Sunny) yang secara agresif mengejar-ngejar perempuan itu. Dilihat dari penampilannya, Gianfranco adalah sosok idaman dari pria ideal Pipin. Ganteng, macho, seksi dan konon tajir. Pipin terbentur oleh dilema.

Meski tergila-gila pada bule yang identik dengan budaya lebih bebas ketimbang nilai-nilai ketimuran, Pipin bukanlah perempuan gampangan. Dia tetap memegang prinsip ketimuran, anti diskriminasi dan menolak kekerasan seksual dalam hubungan cinta.
Cuplikan film Kenapa Harus Bule? (HO/Kalyana Shira)

Meski menyindir fenomena supremasi kulit putih, di sisi lain, film ini juga menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki selera pilihannya sendiri terhadap siapa yang akan dicintai dan hendak dijadikan pasangan hidup. Termasuk mereka yang berbeda ras.

Stereotipe penampilan perempuan juga dihadirkan secara kocak di film ini. Perempuan dandanan mencolok dengan busana-busana terbuka dianggap sesuai dengan selera bule dicap negatif, dicap sebagai "ayam" yang cuma mau menikmati kekayaan pria bule berkantung tebal. Pipin juga memilih gaya stereotipe itu ketika sedang mengejar-ngejar pria idamannya.

Hasil kolaborasi antara Viu dengan Kalyana Shira Films dan Good Ship Productions ini juga menyinggung tekanan sosial untuk perempuan yang belum menikah. Perkawinan dianggap sebagai kewajiban untuk kaum hawa agar lepas dari label perawan tua. Pipin merasa dikejar tenggat waktu karena belum juga bersuami padahal sebentar lagi dia berusia 30 tahun. 

Melalui Viu Original Film pertama di Indonesia ini, sutradara Andri Cung dan produser Nia Dinata ingin menyampaikan pesan pada seluruh kaum hawa di Indonesia untuk lebih mencintai diri sendiri, percaya diri, juga tidak membuat pilihan besar dalam hidup atas nama tekanan sosial, melainkan untuk kebahagiaan sendiri.

"Kenapa Harus Bule?" akan tayang pada 22 Maret 2018.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kesiapan Piala Dunia U20, Ketum PSSI tinjau stadion GSJ Palembang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar