Buku biografi Henk Ngantung ditulis

Buku biografi Henk Ngantung ditulis

Istri mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965, Henk Ngantung, Evelyn Ngantung, menunjukkan kondisi rumah dan studio seni peninggalan mantan Gubernur DKI Jakarta 1964-1965 di Jakarta Timur, Sabtu (8/9). Evelyn Ngantung berniat untuk mendedikasikan rumah dan ex studio milik suaminya bagi pengemban seni dan kebudayaan di Kota Jakarta. (FOTO ANTARA/M Agung Rajasa)

Surabaya (ANTARA News) - Nama Henk Ngantung mungkin tidak banyak yang paham siapa dia. Namun bagi dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra di Surabaya, Obed Wicandra, nama gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965 itu istimewa.

Wicandra menulis buku biografi Henk, yang bernama lengkap Hendrik Hermanus Joel Ngantung, yang lahir di Manado, 1 Maret 1921, dan meninggal di Jakarta, pada 12 Desember 1991. Dialah gubernur yang banyak memberi sentuhan seni pada Jakarta sebagai kota yang berbudaya dunia dengan basis budaya nasional.

Wicandra, saat bedah buku yang dia tulis di kampus setempat, Jumat, mengatakan, dia menulis buku itu untuk mengembalikan pikiran bahwa sebagai bangsa, tidak ada hitam-putih dalam sejarah bangsa Indonesia.

Dia menilai, Henk mencoba membuka kesadaran bahwa latar belakang apapun di Indonesia maka bisa menjadi pemimpin selama mempunyai kapasitas dan kapabilitas dalam memimpin serta membuat Indonesia maju. Henk adalah seorang Kristen Protestan pertama yang ditunjuk memimpin DKI Jakarta, sebagai gubernur ketujuh daerah khusus ibu kota negara itu. 

"Bagi saya, Henk Ngantung merupakan hal yang menarik bukan saja karena kesamaan latar belakang di seni rupa namun bagaimana jalan hidup yang ditempuh oleh seorang seniman yang ditakdirkan kemudian menjadi seorang gubernur DKI Jakarta," kata dia.

Wicandra menceritakan, dia sampai membayangkan bagaimana saat pria kelahiran Manado itu ditunjuk menjadi wakil gubernur dan kemudian gubernur oleh Soekarno, tentu mendapat cibiran dari lawan-lawan politiknya yang menganggap hal itu sebagai tindakan ceroboh Soekarno yang memilih seorang seniman menjadi pejabat di pemerintahan.

"Catatan pers dalam bentuk berita ini kemudian memperlihatkan betapa mumpuninya seorang seniman bernama Henk Ngantung itu, bukan karena faktor kedekatannya dengan Presiden Soekarno, namun karena memang kapasitasnya untuk membenahi kota Jakarta," kata Wicandra.

Bagi dia, Henk telah meninggalkan karya yang sangat besar bagi Jakarta maupun Indonesia. Namun setelahnya, sambung dia, kiprah Henk hilang karena dianggap rezim berikut menganggap dia terlibat organ-organ Partai Komunis Indonesia.

Beberapa monumen besar di Jakarta lahir lewat tangan dingin Henk. Selain itu, bagi Soekarno, Henk dibaca sebagai orang yang bisa menerjemahkan gagasan Soekarno yang sering meluap-luap dengan visi jauh ke depan.

"Apakah Henk Ngantung adalah seorang PKI? Saya rasa tidak. Pemikirannya memang sosialis tapi bukan PKI walau dari organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Saya tidak membaca itu sebagai PKI tapi dia Soekarnois," ucapnya.

Dia menjelaskan, buku yang dia tulis melalui riset pada 2011 itu lebih fokus pada kiprah Henk saat menjadi pejabat. Bagaimana kebijakannya saat menjadi wakil gubernur dan akhirnya menjadi gubernur dan juga bagaimana kebijakaan sampai turun ke masyarakat.

"Jalan MH Thamrin itu dulu menjadi semacam sayembara publik, kira-kira pohon yang bagus itu apa. Kita bisa lihat sekarang bagaimana keberpihakan dia kepada lingkungan selama menjabat," katanya.

Jakarta yang semakin berkembang dan padat serta hiruk-pikuk sudah diperkirakan sejak jauh-jauh hari memerlukan ruang hijau dan ruang publik yang akrab dengan warganya dan mencerminkan kualitas budaya Indonesia. 

Pewarta: Indra Setiawan
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar