Presiden bicara siasat berantas terorisme di ASEAN-Australia Special Summit

Presiden bicara siasat berantas terorisme di ASEAN-Australia Special Summit

Arsip Foto. Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull menyimak Presiden Indonesia Joko Widodo berbicara di CEO Forum Lunch dalam pertemuan tingkat tinggi 10 anggota ASEAN dan Australia di Sydney, Sabtu (17/3/2018). (ANTARA /Mark Metcalfe/Pool via REUTERS)

Sydney (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo berbicara mengenai pendekatan keras dan lunak dalam upaya memberantas terorisme, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Australia, dalam pidatonya di sidang pleno ASEAN-Australia Special Summit di International Convention Centre (ICC), Sydney, Minggu.

"Pendekatan keras saja tidak cukup untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme dan perlu diimbangi dengan pendekatan lunak, salah satu hal yang sangat penting adalah kapasitas preventif," katanya.

Presiden menyambut baik penandatanganan nota kesepahaman kerja sama pemberantasan terorisme, ASEAN-Australia MoU on Cooperation to Counter International Terrorism, pada Sabtu (17/3) yang akan menjadi penguat upaya memerangi ancaman terorisme.

"Dari observasi saya, MoU ini menekankan keseimbangan antara pendekatan keras dan lunak," katanya.

Ia menjelaskan pula bahwa dalam upaya pemberantasan terorisme, kegagalan pencegahan tidak hanya akan menyebabkan korban jiwa dan kerugian besar lainnya, namun juga memicu reaksi eksesif yang tidak perlu terjadi.

Presiden juga berbagi pengalaman mengenai upaya deradikalisasi dan kontra radikalisasi di Indonesia, termasuk pelibatan para mantan narapidana terorisme yang sudah insaf dalam upaya mencegah ancaman radikalisme dan terorisme. Para mantan narapidana terorisme juga difasilitasi untuk bertemu dengan keluarga korban.

"Para mantan narapidana teroris tersebut saat ini membantu pemerintah dalam menyebarluaskan nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Mereka telah menjadi agen penyebaran toleransi dan nilai perdamaian," ungkap Presiden.

Dengan bantuan para mantan narapidana ini, keluarga dan lingkungan mereka justru lebih mudah diubah menjadi lingkungan yang toleran dan damai.

Presiden dalam pidatonya mengatakan bahwa Indonesia memiliki dua organisasi Islam besar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang bekerja sama dan sangat membantu pemerintah dalam menyebarkan nilai toleransi dan perdamaian.

Mengenai upaya kontra-radikalisasi, Presiden menyoroti pentingnya pelibatan para anak muda millennial.

"Para anak muda ini telah menjadi duta-damai yang efektif karena mereka menggunakan bahasa yang dipahami oleh generasinya. Saya berharap kerja sama untuk pemberantasan radikalisme dan terorisme akan dapat terus ditingkatkan, baik melalui pendekatan keras maupun pendekatan lunak. Indonesia siap berkontribusi," katanya.

Presiden pun mengapresiasi keterlibatan aktif Australia dan ASEAN dalam memerangi ancaman terorisme.

"Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada Australia atas upaya memajukan kerja sama counter-terrorism dengan ASEAN. Kerja sama di bidang counter-terrorism menjadi perhatian semua negara. Hal ini sangat dapat dipahami mengingat sampai saat ini ancaman terorisme tidak berkurang, termasuk di kawasan kita," katanya.

Menurut dia, kerja sama sub-regional setelah kejadian di Marawi yang digagas oleh Indonesia bersama Australia dengan melibatkan Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam dan Selandia Baru adalah satu contoh kerja sama yang cepat dan efektif.

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar