Ambon (ANTARA News) - Wakapolda Maluku, Kombes Benny Kilopang, menegaskan bahwa polisi terus mengejar pimpinan eksekutif Front Kedaulatan Maluku (FKM) yang memperjuangkan RMS, Simon Saiya, sebagai pengganti Alexander Manuputty yang melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) setelah kabur dari LP Cipinang Jakarta pada 2003. "Kami sebenarnya sudah mengetahui keberadaan bersangkutan. Namun, saat penggerebekan di Desa Aboru, Pulau Haruku, Maluku Tengah, Minggu subuh(8/7), ia berhasil melarikan diri ke hutan sehingga pengejaran intensif dilakukan ,agar tertangkap salah satu aktor separatis RMS tersebut," katanya, di Ambon, Senin. Sebenarnya, menurut dia, polisi gabungan saat penggerebekan di Desa Aboru mengejar 30 orang yang menjadi Target Operasi(TO). Namun, kondisi geografis Desa Aboru memungkinkan penggrebekan sudah diketahui sehingga mereka melarikan diri ke hutan. Penggerebekan di Desa Aboru itu hanya berhasil menangkap Leonard Hendriks sebagai salah satu pelaku "tarian liar" saat peringatan Harganas ke-XIV dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Ambon, 29 Juni 2007. Di Aboru , polisi juga berhasil mengamankan dua senjata api rakitan dan satu bendera Republik Maluku Selatan (RMS) berukuran 1 x 2 meter. Polisi juga mengamankan "G" di Desa Ouw, Pulau Saparua(Maluku Tengah) yang masih dimintai jeterangan sebagai saksi. Ditanya pers soal Nus Malawauw yang melarikan diri saat speedboat yang ditumpangi dihantam gelombang tinggi, Wakapolda Maluku menjelaskan, masih terus dikejar dengan melibatkan masyarakat di Pulau Haruku, terutama Desa Oma dan Wassu. Nus yang bersama empat tersangka lainnya dikawal 25 personel Polisi sebagai penunjuk jalan untuk penggrebekan di Desa Aboru. Dia memanfaatkan kondisi laut tidak bersahabat dengan menceburkan diri ke laut di saat speedboat dihantam gelombang tinggi sehingga akhirnya bodi pecah karena terbentur dinding karang. Insiden tersebut mengakibatkan 25 personel polisi dan pengemudi speedboat, La Awal, bersama dua pembantunya terapung -apung sekira dua jam sebelum ditolong. (*)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2007