counter

Heboh fenomena`halo` di Yogyakarta, ini penyebabnya

Heboh fenomena`halo` di Yogyakarta, ini penyebabnya

Seorang warga melihat fenomena halo matahari dilangit kawasan Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (17/6). Bulatan halo di langit terbentuk karena adanya reaksi optik ketika sinar matahari dibiaskan kristal-kristal air pada lapisan awan tipis cirrus. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

Yogyakarta (ANTARA News) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta mengatakan fenomena alam ketika matahari dikelilingi bulatan seperti cincin yang terlihat di langit Yogyakarta, Selasa, adalah `halo`.

"`Fenomena optis berupa lingkaran cahaya di sekitar matahari ini karena ada pembiasan sinar matahari oleh awan tinggi," kata Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Djoko Budiono di Yogyakarta, Selasa.

Menurut Djoko, awan yang membiasakan sinar matahari itu adalah awan cirrus yang berada pada ketinggian 6.000 meter dari permukaan Bumi. Awan cirrus ini mempunyai partikel yang sangat dingin dan biasanya berwujud kristal es.

"Awan cirrus yang super dingin inilah yang membiaskan cahaya matahari sehingga membentuk seperti cincin yang melingkari matahari," kata Djoko.

Menurur dia, tidak semua orang bisa melihat fenomena itu. Untuk hari ini, menurut dia, kemungkinan hanya sebagian warga Daerah Istimewa Yogyakarta yang bisa menikmatinya.

Ia mengatakan munculnya fenomena halo pukul 10.00 WIB tadi adalah peristiwa biasa seperti halnya pelangi dan bukan pertanda bencana, seperti gempa atau lainnya sehingga masyarakat tidak perlu panik atau terpengaruh mitos atau informasi yang menyesatkan.

"Biasanya kalau sudah beberapa saat setelah matahari bersinar dan memanaskan partikel air yang super dingin di awan cirrus, maka fenomena itu akan hilang," kata dia.

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar