Aljazair berkabung usai kecelakaan pesawat paling mematikan

Aljazair berkabung usai kecelakaan pesawat paling mematikan

Sebuah pesawat militer terjatuh di provinsi Oum El Bouaghi, sekitar 500km dari ibukoa Aljazair, Selasa (11/2). Pesawat transportasi yang membawa anggota militer dan keluarganya tersebut jatuh di daerah pegunungan di timur Aljazair. Kementrian pertahanan mengatakan 77 orang tewas dalam kecelakaan tersebut. (REUTERS/Stringer )

Aljazair (ANTARA News) – Warga Aljazair pada Kamis berkabung atas 257 orang yang tewas dalam kecelakaan pesawat militer kemarin (Rabu), bencana pererbangan terburuk yang pernah terjadi di negara tersebut, tetapi masih belum diketahui penyebab kecelakaan itu.

Presiden Abdelaziz Bouteflika mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari setelah pesawat itu jatuh di sebuah lapangan dekat pangkalan udara Boufarik 30 kilometer sebelah selatan Aljazair, tak lama setelah lepas landas pada Rabu.

Pesawat itu sebagian besar membawa personil militer dan anggota keluarga mereka dalam perjalanan kembali ke barak mereka di ujung selatan negara tersebut.

Bendera-bendera dikibarkan setengah tiang di gedung-gedung publik dan kedutaan asing di ibu kota pada Kamis ketika departemen pemerintah mengheningkan cipta selama satu menit.

Tidak ada pengumuman tentang pengaturan pemakaman, karena banyak dari jenazah korban belum dapat diidentifikasi.

Beberapa perusahaan besar melalui sejumlah iklan-iklan di surat kabar menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dari 10 anggota awak dan 247 penumpang yang tewas.

Masjid di seluruh negeri dijadwalkan untuk menggelar doa berkabung pada Jumat.

Pihak berwenang Aljazair telah mengumumkan penyelidikan atas kecelakaan itu, tetapi sejauh ini belum ada rincian tentang temuan apa pun.

Pesawat itu, yang jatuh tak lama setelah mengisi bahan bakar, terbakar sebelum jatuh, kata para saksi mata kepada AFP.(hs)

Baca juga: 250 tewas dalam kecelakaan pesawat militer Aljazair
Baca juga: Korban tewas kecelakaan pesawat di Aljazair bertambah jadi 257 orang

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar