counter

Laporan dari Saudi

Liga Arab serukan penghentian kekejaman terhadap Rohingya

Liga Arab serukan penghentian kekejaman terhadap Rohingya

Arsip Foto. Foto udara sebuah desa Rohingya yang dibakar dekat Maungdaw, utara Rakhine, Myanmar, 27 September 2017. (REUTERS/Soe Zeya Tun)

Al Khobar, Arab Saudi (ANTARA News) - Para pemimpin dan ketua delegasi negara-negara anggota Liga Arab merampungkan Konferensi Tingkat Tinggi ke-29 pada Minggu dengan mengeluarkan Deklarasi Dhahran, yang mengutuk aksi terorisme, kekerasan dan berbagai pelanggaran hak asasi manusia terhadap kelompok minoritas muslim Rohingya di Myanmar.

"Kami menyerukan masyarakat internasional untuk menjalankan kembali tanggungjawabnya dan bergerak secara efektif, diplomatis, hukum dan kemanusiaan guna menghentikan pelanggaran-pelanggaran ini," demikian antara lain isi Deklarasi Dhahran yang diperoleh Antara di Al Khobar, Senin pagi.

Dalam KTT Liga Arab yang dipimpin oleh Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud itu, para pemimpin Liga Arab meminta masyarakat internasional memastikan Pemerintah Myanmar sebagai pihak yang bertanggungjawab penuh atas krisis Rohingya.

Akibat aksi kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang menurut banyak pihak dilakukan tentara di negara berpenduduk mayoritas penganut Buddha itu, sedikitnya 750.000 warga etnis Muslim Rohingya terpaksa meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka untuk mengungsi ke negara tetangga Bangladesh.

Media-media internasional mewartakan warga Rohingya yang telah menjadi korban kekejaman tentara Myanmar, yang dituduh membunuh, memperkosa, dan membakar desa-desa mereka.

Konferensi tingkat tinggi Liga Arab yang berlangsung sehari antara lain dihadiri oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi, Presiden Komoros Azali Assoumani, Presiden Irak Mohammed Fuad Masum, Presiden Yaman Abdrabbuh Mansur Hadi, Presiden Dewan Presiden Pemerintahan Koalisi Nasional Libya Fayez Mustafa Al-Sarraj, Presiden Lebanon Michel Aoun, serta pemimpin Jordania, Kuwait, Bahrain, dan Maroko.

Baca juga:
Pemerintah Myanmar merepatriasi satu keluarga Rohingya
Tujuh tentara Myanmar dipenjara 10 tahun terkait pembantaian Rohingya

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar