counter

Dirut RS Medika heran saat dimintai persetujuan rawat Setnov

Dirut RS Medika heran saat dimintai persetujuan rawat Setnov

Arsip Foto. Dirut RS Medika Permata Hijau Hafil Budianto saat berada di gedung KPK, Jakarta, Senin (22/1/2018), untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan merintangi penyidikan perkara KTP Elektronik dengan tersangka Fredrich Yunadi. (ANTARA /Akbar Nugroho Gumay)

Saya merasa heran kenapa harus direktur yang harus dimintai persetujuan mengenai pasien yang butuh rawat inap
Jakarta (ANTARA News) - Direktur Utama Rumah Sakit Medika Permata Hijau Hafil Budianto Abdulgani mengaku heran ketika dimintai persetujuan terkait perawatan pasien bernama Setya Novanto pada 16 November 2017.

Pada 16 November 2017, Setya Novanto yang ketika itu masih menjabat sebagai Ketua DPR mengalami kecelakaan di kawasan Permata hijau, Jakarta Selatan, sekitar pukul 19.00 WIB.

"Saya merasa heran kenapa harus direktur yang harus dimintai persetujuan mengenai pasien yang butuh rawat inap. Saya sedikit kaget karena sudah memberi kewenangan ke yang bersangkutan, kalau orang perlu dirawat, siapa pun, silakan saja," kata Hafil dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin.

Dalam sidang itu, dia bersaksi untuk dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo, yang didakwa bekerja sama dengan advokat Fredrich Yunadi untuk menghindarkan Setya Novanto dari pemeriksaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait perkara korupsi dalam pengadaan KTP-Elektronik.

Hafil menuturkan bahwa Plt Manajer Pelayanan Medik RS Medika Permata Hijau dr Alia Shahab meneleponnya ketika dia berada di Melbourne, Australia, pada 16 November 2017.

"Saya terima telepon Plt Pelayanan Medis dokter Alia, pertama pesan melalui WhatsApp, di sana seingat saya sudah magrib, pukul 19.00 waktu Australia, berarti sekitar pukul 14.00 lewat di Jakarta, katanya ada pesan penting, ingin bicara, dia katakan pengacara Setya Novanto menelepon dan minta Setya Novanto untuk dirawat dan memesan kamar," jelas Hafil.

Karena sedang berada di luar negeri, Hafil mengatakan menyerahkan kepada dokter Alia untuk menentukan dokter yang menjadi penanggung jawab perawatan Setya Novanto.

"Lalu saya dikirimi berita mengenai kejadian itu melalui WhatsApp. Saya buka pesannya beberapa hari setelah dikirim karena sibuk sekali. Saya dapat berita dari teman dan junior saya soal perkembangan berita," ungkap Hafil.

Setelah mengetahui perkembangan Setnov dan keterlibatan dokter Bimanesh Sutarjo yang merupakan dokter paruh waktu di RS Medika Permata Hijau, Hafil berusaha menghubungi dokter Alia tapi tidak berhasil.

"Beberapa kali saya hubungi nomornya tidak aktif setelah saya dengar soal rekaman Youtube soal kecelakaan." katanya, menambahkan bahwa dia baru bisa berbicara dengan dokter Alia tanggal 21 November.

Saat berbicara dengan Alia, Hafil mendapat laporan bahwa dokter Michael Chia selaku dokter IGD pada 16 November 2017 tidak memberikan surat rawat Setnov di rumah sakit.

"Saya sedikit heran dalam hal itu, tapi tiba-tiba dokter Alia menutup teleponnya," tambah Hafil.

Hafil baru kembali ke Indonesia pada 25 November 2017 dan ia pun menerima semua berita acara dari staf, perawat, dokter yang terlibat dalam perawatan Setnov.

"Tapi dari dokter Bimanesh tidak ada, dokter yang melaporkan salah satunya dokter Michael yang menolak merawat Setnov karena ia belum melihat pasiennya tapi diminta memberi surat rawat," ungkap Hafil.

Laporan-laporan tersebut, menurut dia, lalu dibahas di dewan direktur yang antara lain meliputi direktur utama RS Medika Permata Hijau, direktur utama RS Medika di Malaysia, direktur RS Medika Bumi Serpong Damai dan direktur PT pada 2 Desember 2017.

"Di situlah saya dapatkan instruksi untuk meminta penjelasan dokter Bimanesh dan dijawab tertulis juga," kata Hafil.

Baca juga:
Perawat katakan Setnov teriak minta diperban saat dirawat
Fredrich minta staf cek fasilitas RS Medika pada hari Setnov kecelakaan

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar