counter

Mengejar cita-cita hingga "Terbang Menembus Langit"

Mengejar cita-cita hingga "Terbang Menembus Langit"

Para pemain film "Terbang Menembus Langit" antara lain Dion Wiyoko, Laura Basuki, Melissa Karim dan Delon Thamrin saat jumpa pers usai pemutaran film di Kemang, Jakarta, Senin (16/4/2018). (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)

Jakarta (ANTARA News) - A Chun kecil ingin sekali bersekolah, ayah-ibunya mengabulkan permintaannya meski mereka hidup sangat sederhana dengan jumlah anak yang banyak.

Lulus SMA di Tarakan, Kalimantan Utara, tekad A Chun (Dion Wiyoko) untuk melanjutkan sekolah ke Surabaya semakin besar, namun, kakak-kakaknya tidak ada yang mengizinkan karena masalah biaya. Semangatnya kembali menyala setelah A Li (Baim Wong) memberi dukungan moral.

Berbekal semangat, A Chun memulai hidupnya di Surabaya.


Kisah nyata

Fajar Nugros, sang sutradara, menuangkan kisah hidup motivator Onggy Hianata dalam film "Terbang Menembus Langit". Melihat judul dan adegan-adegan awal film, penonton pasti bisa membaca film ini berisi perjuangan meraih cita-cita.

Nugros memang ingin membuat film biopik, hampir seluruhnya peristiwa dalam film pernah dialami sendiri oleh Onggy.

"Semua kejadian di film betulan ada. Tapi, Nugros yang meramunya supaya bisa jadi film," kata Onggy yang datang ke pemutaran film hari ini.

Jenis film biopik juga yang membuat Nugros memakai alur kronologis dalam bertutur cerita, kisah hidup A Chun, panggilan Onggy dalam film, dibuat runut mulai dari dia kecil hingga akhirnya hijrah ke kota besar.

Kegigihan A Chun tergambar jelas dalam film, bagaimana dia memulai bisnis demi bisnis meski pun hampir selalu gagal. Bagi yang tidak mengetahui sosok Onggy, penonton bisa saja mengira film ini menggambarkan jatuh-bangun calon pemilik perusahaan-perusahaan raksasa di Indonesia.

Layaknya kehidupan manusia, A Chun selalu menemukan tantangan yang menyulitkan hidupnya. Fajar kelihatannya ingin memotret bagaimana kesulitan-kesulitan A Chun dan bagaimana dia keluar dari situasi tersebut, namun, akibatnya penonton kesulitan menentukan mana konflik utama yang menjadi titik balik tokoh utama.

Penonton akhirnya menemukan pola bagaimana konflik dan resolusi di film ini sehingga beberapa adegan di tengah film terasa agak menjemukan.

Hal yang perlu diacungi jempol dalam film ini adalah bagaimana sang sutradara  menampilkan kisah Onggy Hianata sedekat mungkin dengan kenyataan. Onggy terlahir dari keluarga etnis Tionghoa di Tarakan, orang tuanya tinggal di rumah panggung kayu bersama anak-anaknya.

Selain berhasil memoles para aktor dan aktris berpenampilan sesuai dengan kondisi ekonomi, Dion Wiyoko pun terlihat alami menjadi adik dari Delon Thamrin, Baim Wong dan Melissa Karim dalam film tersebut.

Sesekali keluarga itu menggunakan bahasa Mandarin, terutama ketika ayah A Chun memberinya petuah hidup. Onggy membenarkan orang-orang di daerahnya memang sering berkomunikasi dengan bahasa Mandarin, dia pun masih sempat mendapatkan pelajaran bahasa Mandarin di sekolah sebelum dilarang Orde Baru setelah 1965.

Nugros juga beberapa kali melawak ringan, yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti menyalakan pendingin udara tanpa memperhitungkan kapasitas listrik menjadi lelucon manis karena hampir setiap penonton mengalami masalah listrik yang mirip.

Baca juga: Perjuangan Dion Wiyoko dan Laura Basuki dalam "Terbang, Menembus Langit"

Satu hal yang menggelitik dalam film ini, anak-anak di Tarakan berpendapat bila ingin maju, harus pergi ke Pulau Jawa, kota Surabaya menjadi impian mereka untuk memperbaiki hidup.

Onggy membenarkan hal ini, pada zamannya, Surabaya menjadi tujuan para pemuda kampung halamannya mengadu nasib, bukan Jakarta.

"Dulu kami inginnya memang ke Surabaya, bukan Jakarta. Pertimbangannya karena lokasi lebih dekat. Teman-teman juga dulu banyak pergi ke sana, bukan Jakarta," kata Onggy.

Agar tidak terjebak glorifikasi materi, Nugros memutuskan untuk tidak mengisahkan kehidupan A Chun begitu bisnisnya mulai menanjak. Film "Terbang Menembus Langit" akan tayang di bioskop mulai 19 April 2018.

Oleh Natisha Andarningtyas
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar