Laporan dari Saudi

Liga Arab dorong investigasi insiden Ghouta

Liga Arab dorong investigasi insiden Ghouta

Foto 30 Maret 2018 - kerusakan di kota Douma, Timur Ghouta, Suriah, (REUTERS/Bassam Khabieh)

Al Khobar, Arab Saudi (ANTARA News) - Para pemimpin negara-negara anggota Liga Arab yang mengakhiri KTT ke-29, Minggu (15/4), sepakat untuk mendorong adanya investigasi independen atas kasus serangan senjata kimia terhadap warga sipil di Ghouta, Suriah.

Sikap bersama para pemimpin dan ketua delegasi negara-negara anggota yang hadir pada KTT yang dilangsungkan di aula gedung "King Abdulaziz Center for World Culture" Dhahran, Arab Saudi itu terungkap dalam Deklarasi Dhahran yang mereka hasilkan.

Menurut mereka, investigasi independen tersebut diperlukan untuk menegakkan hukum internasional.

Mereka pun mengutuk serangan senjata kimia yang menewaskan puluhan orang di Ghouta Timur yang dikuasai pasukan Pemerintah Suriah itu pekan lalu.

Menyusul serangan yang dikecam dan dikutuk banyak tokoh, termasuk Paus Fransiskus itu, Amerika Serikat bersama Inggris dan Prancis melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di Suriah sebagai bentuk hukuman atas insiden Ghouta tersebut.

Para pemimpin Liga Arab dalam Deklarasi Dhahran itu menyatakan mereka mengikuti aksi Barat terhadap Suriah tersebut.

Liga Arab berkomitmen bersama masyarakat internasional untuk menghapus penderitaan warga Suriah dan menghindari muncul krisis kemanusiaan baru di negara itu.

Dinamika Kawasan
Deklarasi Dhahran yang dihasilkan KTT ke-29 Liga Arab yang dipimpin langsung Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud itu, juga menyoroti dinamika yang dihadapi sejumlah negara di kawasan selain Suriah dan Yaman, seperti Lebanon, Libya, dan Uni Emirat Arab.

Terkait dengan tantangan yang dihadapi Lebanon, para pemimpin dan ketua delegasi yang hadir pada KTT ke-29 Liga Arab itu menegaskan kembali solidaritas mereka untuk Lebanon maupun keprihatinan negara itu atas berbagai pelanggaran Israel terhadap wilayahnya.

Dalam soal Libya, para pemimpin Liga Arab menekankan penting untuk mendukung lembaga-lembaga resmi Libya dan mendukung dialog yang diselenggarakan negara-negara anggota Liga Arab dan dihadiri wakil Uni Eropa, Uni Afrika, dan Perserikatan Bangsa Bangsa.

Liga Arab juga menegaskan dukungan kuat pada upaya otoritas Libya menumpas kelompok-kelompok teroris dan menangani ancaman yang datang dari para pendukung teroris dan negara-negara tetangganya.

Terkait soal kedaulatan Uni Emirat Arab atas Pulau Turn Besar, Turn Kecil dan Abu Musa, Liga Arab mendukung semua upaya yang diambil untuk memulihkan kedaulatan Uni Emirat Arab atas ketiga pulau tersebut.

Mereka mendesak Iran untuk menanggapi inisiatif Uni Emirat Arab dalam mencari solusi damai atas masalah tiga pulau ini, baik melalui perundingan langsung maupun melalui pengadilan internasional.

Konferensi tingkat tinggi yang berlangsung di aula gedung "King Abdulaziz Center for World Culture" Dhahran itu, antara lain dihadiri Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi, dan Presiden Komoros Azali Assoumani.

Hadir pula Presiden Irak Mohammed Fuad Masum, Presiden Yaman Abdrabbuh Mansur Hadi, Presiden Dewan Presiden Pemerintahan Koalisi Nasional Libya Fayez Mustafa Al-Sarraj, Presiden Lebanon Michel Aoun, serta pemimpin Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Moroko.

Liga Arab yang didirikan di Kairo pada 1945 oleh Mesir, Arab Saudi, Irak, Lebanon, Suriah, Yordania, dan Yaman itu kini beranggotakan 22 negara.

Lima belas negara anggota lainnya adalah Libya, Sudan, Maroko, Tunisia, Kuwait, Al Jazair, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Oman, Mauritania, Somalia, Palestina, Djibaouti, dan Komoro.
 

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar