Bandara Baubau renovasi tempat parkir pesawat

Bandara Baubau renovasi tempat parkir pesawat

Arsip - Dua buah pesawat landing di bandara Betoambari, Kabupaten Baubau, Sulawesi Tenggara. (ANTARA/Zabur Karuru)

Baubau (ANTARA News) - Bandar udara Betoambari Kota Baubau, Sulawesi Tenggara mulai merenovasi pekerjaan apron atau tempat palataran parkir pesawat akibat kondisi permukaannya yang menurun.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bandara Betoambari Baubau, Rano, di Baubau, Selasa, mengatakan rekonstruksi apron dengan menggunakan belanja modal sebesar Rp8,3 miliar tahun 2018 itu karena kondisinya sudah lama sejak 1973.

"Pesawat kalau parkir kondisinya miring, makanya kita disarankan untuk direkonstruksi ulang," ujar Rano, yang juga menjabat Kepala Sub Seksi Teknik Operasi dan Pelayan Keadaan Darurat Bandara Baubau.

Ia mengatakan, dari ukuran apron saat ini seluas 170x63 meter terdapat luas apron 85 meter konstruksinya dikerjakan sejak 1973 yang kondisinya sudah menurun, sehingga untuk menyamakan permukaannya agar tidak terjadi kemiringan akan dilapis dengan ketebalan 5,5 cm.

"Jadi apron yang lama dilakukan revisi kembali karena permukaannya turun, sekaligus apron tahun 2014 kita lapis," ujarnya.

Selain pengerjaan apron, kata Rano, total anggaran belanja modal tahun 2018 sekitar Rp19 milyar juga akan digunakan untuk pengerjaan rehabilitasi terminal atau perluasan terminal sebesar Rp4,3 milyar.

"Perluasan ini karena kondisi penumpang bandara kita sekarang sudah lebih dari 200 persen dan kapasitasnya sudah tidak memadai lagi. Hitungan setiap bulannya mencapai 23 ribu," katanya.

Akibatnya, lanjut dia, kondisi kalau jadwal penerbangan ketemu dua hingga tiga pesawat, pihak bandara belum bisa memperkenankan pengguna jasa masuk ke dalam terminal karena daya tampungnya sudah tidak mencukupi.

Selain itu, tahun 2018 ini akan dilakukan pengerjaan drainase yang merupakan pengerjaan lanjutan 2015 yang belum rampung akibat permasalahan sengketa lahan.

"Tahun ini kita rampungkan semua termasuk gorong-gorong dengan anggaran Rp1,2 milyar. Kemudian studi untuk perencanaan sisi udara atau rancanangan studi terinci (RTT) sebesar Rp1,5 milyar," ujarnya.

Ia menambahkan, ketiga paket pekerjaan sudah selesai proses lelangnya dan masih dikerjakan. Sedangkan, jangka waktu kerjanya berbeda-beda ada yang sampai Juli dan ada yang sampai Desember 2018.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar