Kemenperin libatkan santri kembangkan industri berbasis ekonomi digital

Kemenperin libatkan santri kembangkan industri berbasis ekonomi digital

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers usai dipanggil Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/4/2018). (ANTARA /Joko Susilo)

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Perindustrian siap melibatkan santri di seluruh Indonesia soal pengembangan industri berbasis ekonomi digital guna menyongsong era revolusi industri 4.0 melalui Program Santripreneur.

"Nanti yang kami dorong terus adalah program Santripreneur dan digitalisasi ekonomi ke pesantren-pesantren," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui keterangannya di Jakarta, Selasa.

Airlangga juga menuturkan, pondok pesantren memiliki peran penting untuk mewujudkan kemandirian industri nasional.

Lebih lanjut, langkah strategis dalam pelaksanaan program Santripreneur tersebut adalah berbasis pada Business Process Outsourcing (BPO), Joint Operation, dan Capacity Building. 

Realisasi dari program Santripreneur ini juga adanya kerja sama dengan pelaku industri dan perbankan.

“Program Santripreneur ini, diproyeksikan bisa mendorong Industri Kecil Menengah (IKM) di dalam negeri. Sektor IKM ini dominan dalam populasi industri di Indonesia,” paparnya. 

Apalagi, IKM turut mendorong visi pemerintah menciptakan pemerataan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Saat ini, jumlah IKM nasional tumbuh sangat cepat. Pada tahun, 2016, pertumbuhannya mencapai 165.983 unit usaha,atau meningkat 4,5 persen dibandingkan tahun 2015. 

Pada 2017, jumlah IKM ditargetkan mencapai 182 ribu unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 400 ribu orang.

Dengan berbagai program strategis tersebut, Kemenperin akan mendorong penumbuhan wirausaha baru sebanyak 5.000 unit dan pengembangan 1.200 sentra IKM pada 2017. 

Kemudian pada 2019, ditargetkan akan mencapai 20.000 wirausaha baru. Tak hanya itu, IKM  juga terus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri yang cukup signifikan setiap tahunnya. 

Hal tersebut, terlihat dari capaian pada 2016 sebesar Rp520 triliun atau meningkat 18,3 persen dibandingkan pada 2015.  Nilai tambah IKM pada 2014 tahun sekitar Rp373 triliun menjadi Rp439 triliun pada 2015 atau naik 17,6 persen.

Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar