Ketika Happy Salma gugup bertemu Pramoedya Ananta Toer

Ketika Happy Salma gugup bertemu Pramoedya Ananta Toer

Peringatan 11 Tahun Munir Artis Happy Salma menampilkan drama monolog pada peringatan 11 Tahun Munir di Jakarta, Senin (7/9). Dalam acara peringatan tragedi pembunuhan aktivis HAM Munir tersebut Omah Munir kembali mengingatkan Presiden Joko Widodo untuk mendorong penyelesaian kasus tersebut guna mewujudkan supremasi hukum dan rasa keadilan. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta (ANTARA News) - Happy Salma masih mengingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, pada 2004.

"Saya kuliah pas reformasi, kenal bukunya Pram yang 'Gadis Pantai'. 2004 akhirnya kesampaian ketemu Pram," kata Happy saat membuka pameran "Namaku Pram: Catatan dan Arsip" di Jakarta, Selasa.

Sang aktris mengakui pertama kali bertemu sang sastrawan besar, dia gemetar sampai ingin menangis, saking senangnya bisa bertemu idola. Happy yang sangat penasaran memberanikan diri bertanya mengenai akhir cerita "Gadis Pantai".

Beberapa waktu berselang, Happy masih berkesempatan bertemu dengan Pram sebelum dia berpulang 2006 lalu.

Happy bertanya "Bapak, masih ingat saya?"

"Iya ingat, kamu tidak cantik, tapi, mengesankan," kata Happy menirukan ucapan Pram waktu itu.

Kalimat itu ia ingat-ingat betul, jika ada yang menyebutnya tidak cantik, "enggak apa-apa, yang penting saya mengesankan," canda sang aktris.

Happy Salma, dari Titimangsa Foundation, mengadakan pameran memorabilia keseharian Pram berjudul "Namaku Pram: Catatan dan Arsip". Dia sangat terkesan bagaimana sang penulis mencatat berbagai peristiwa.

Ketika pertama kali datang 2004 lalu, Happy tidak sadar pulpennya tertinggal di rumah Pram. Ketika dia kembali untuk meminta izin mengadaptasi karya Pram, dia terkejut mendapati pulpennya masih tersimpan di perpustakaan Pram.

"Di situ ada tulisan di kertas 'pulpen punya Happy 2004'," kenang Happy.

Baca juga: Cara Happy Salma dan yayasan ini kenang Pramoedya Ananta Toer



 

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar