Dolar AS menguat di tengah meningkatnya imbal hasil obligasi

Dolar AS menguat di tengah meningkatnya imbal hasil obligasi

Petugas menata tumpukan uang rupiah dan dolar Amerika di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (7/3/2018). Bank Indonesia menyatakan cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2018 menurun 3,92 miliar dolar Amerika menjadi 128,06 miliar dolar Amerika dibandingkan bulan Januari 2018 sebagai imbas untuk stabilisasi nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri. (ANTARA /Sigid Kurniawan)

New York (ANTARA News) - Kurs dolar AS menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), di tengah meningkatnya imbal hasil atau "yield" obligasi pemerintah AS.

Indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama sainggannya, naik 0,37 persen menjadi 90,277 pada akhir perdagangan.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah 10-tahun bergerak di atas 2,957 persen pada Jumat (20/4), mencapai level tertingginya sejak Januari 2014.

Imbal hasil pada surat utang negara AS dua tahun mencapai 2,457 persen, level tertinggi sejak 8 September 2008 ketika surat utang negara dua tahun memberikan imbal hasil setinggi 2,542 persen.

Dengan tidak adanya data ekonomi utama yang dirilis pada Jumat (20/4), para analis mengatakan imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi telah berkontribusi terhadap kenaikan dolar AS.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,2286 dolar AS dari 1,2338 dolar AS di sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,4031 dolar AS dari 1,4078 dolar AS di sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7671 dolar AS dari 0,7723 dolar AS.

Dolar AS dibeli 107,57 yen Jepang, lebih tinggi dari 107,40 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9746 franc Swiss dari 0,9721 franc Swiss, dan naik menjadi 1,2739 dolar Kanada dari 1,2671 dolar Kanada

Baca juga: Rupiah menurun menjadi Rp13.806 per dolar AS

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar