counter

Perilaku LGBT pemicu HIV/AIDS tertinggi di Sumbar

Perilaku LGBT pemicu HIV/AIDS tertinggi di Sumbar

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (PMI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar melakukan renungan dengan menyalakan lilin saat memperingati hari Aids Sedunia di depan kampus Unismuh Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (1/12/2016) malam. (ANTARA /Abriawan Abhe)

Padang (ANTARA News) - Perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), khususnya hubungan seksual sesama jenis, menjadi pemicu tertinggi kasus HIV/AIDS di Sumatera Barat pada 2018 ini, demikian hasil penelitian Perhimpunan Konselor VCT dan HIV/AIDS Indonesia.

"Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan terdapat 10.376 kasus HIV baru pada periode Januari sampai Maret 2018 dengan persentasi lelaki suka lelaki sebesar 28 persen," kata Khaterina Welong, seorang konselor di Perhimpunan Konselor VCT dan HIV AIDS Indonesia Sumbar, di Padang, Senin.

Ia menyampaikan hal itu pada fokus group discussion yang dihadiri Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Ketua Majelis Ulama Sumbar Gusrizal Gazahar dan pemangku kepentingan terkait.

Menurutnya, jika dilihat dari kelompok umur maka penderita AIDS tertinggi ada pada rentang usia 20 sampai 29 tahun, yakni mencapai 29,3 persen.

"Artinya yang terinfeksi HIV adalah mereka yang melakukan perbuatan berisiko 10 tahun sebelumnya atau pada usia 10 tahun hingga 19 tahun," katanya.

Ia memperkirakan saat ini jumlah lelaki penyuka sesama jenis di Sumbar 14.469 orang, jumlah waria 2.501 orang dengan perkiraan pelanggan 2,5 kali lipat.

"Artinya kalau pelanggan waria adalah bapak-bapak maka masuk kategori laki-laki suka laki-laki dengan demikian total pria penyuka sesama jenis diperkirakan mencapai 20 ribu orang," kata dia.

Ia menyampaikan, berdasarkan perkiraan pada 2016 jumlah lelaki penyuka sesama jenis di Sumbar paling banyak di Padang sebanyak 5.267 orang, Kabupaten Agam 903 orang, Kabupaten Pesisir Selatan 882 orang, Kabupaten Pasaman Barat 870 orang, Kabupaten Padang Pariaman 705 orang dan Kabupaten Solok 716 orang.

Kemudian, Kabupaten Sijunjung 459 orang, Kabupaten Tanah Datar 434 orang, Kabupaten Limapuluh Kota 718 orang, Kota Pariaman 536 orang, Kabupaten Solok Selatan 339 orang, Kabupaten Dharmasraya 518 orang, Kota Solok 360 orang,

Lalu Kota Sawahlunto 153 orang, Kota Padang Panjang 135 orang, Kota Bukittinggi 185 orang, Kota Payakumbuh 333 orang, dan Kota Pariaman 217 orang.

Ia menyampaikan salah satu penyebab fenomena ini karena terjadinya krisis karakter dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.

"Misalnya mengalami kekerasan waktu kecil, anak kehilangan figur ayah dan lainnya," kata dia.

Ia memaparkan penyuka lelaki sesama jenis ini menyasar seluruh kalangan mulai dari ASN, mahasiswa, pekerja swasta.

"Terakhir, tiga bulan lalu di Pariaman seorang ASN digerebek warga bersama salah seorang mahasiswa dari perguruan tinggi negeri di Padang," kata dia.

Selain itu hasil penelitian menemukan penggunaan internet dan media sosial berpotensi meningkatkan penularan HIV AIDS.

Terkait dengan solusi ia menyampaikan salah satunya dengan adalah penguatan peran keluarga terutama ayah dan penguatan peran tenaga pendidik.

Ia mengajak semua pihak bertekad dan berkomitmen menghentikan LGBT agar tidak meluas di Sumbar.

Sementara Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan perlu diklarifikasi bahwa data yang disampaikan tersebut baru estimasi, bukan angka yang sebenarnya.

"Sumbar dikenal dengan daerah agama yang menolak keras LGBT, namun di sini ternyata ada ini menjadi persoalan tersendiri, katanya.

Ia mengajak semua pihak serius menyikapinya tanpa kecuali harus bahu membau terlibat termasuk para orang tua.

Baca juga: Dinkes: 370 kasus HIV ditemukan di Padang

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar