1,3 juta ton plastik kemasan rusak lingkungan

1,3 juta ton plastik kemasan rusak lingkungan

Sejumlah pengunjung pantai berjalan di antara ceceran sampah plastik yang terdampar di Pantai Kuta, Bali, Jumat (4/1). Sampah kiriman dari pantai lain tersebut akibat pembuangan sampah sembarangan dari masyarakat sehingga dikhawatirkan dapat memberi citra buruk pariwisata Bali.(ANTARA/Nyoman Budhiana)

Jakarta, 24/4 (ANTARA News) - Hasil penelitian Sustainable Waste Indonesia (SWI) di area Jakarta Selatan dan Kota Ambon pada 2017 menunjukkan bahwa 1,3 juta ton per tahun plastik kemasan tidak terkelola dan berpotensi merusak ekosistem lingkungan.

"Kita dapat angka national profile dengan data empiris Jakarta Selatan yang mewakili kota besar dan Ambon mewakili kota sedang. Kita tidak klaim metode ini paling akurat, karena ada keterbatasan waktu dan sumber data, namun dari hasilnya kita interpolasikan ke nasional," kata Direktur SWI Dini Trisyanti dalam diskusi Kopi Sore bersama Aqua di Jakarta, Selasa.

Analisis Arus Limbah Indonesia dari hasil penelitian SWI selama enam bulan di area Jakarta Selatan dan Ambon, ia mengatakan pihaknya bisa mendapat banyak sekali bahan analisis terkait isu sampah perkotaan.

Sebanyak 60 persen sampah perkotaan, ia mengatakan diketahui merupakan bahan organik, 14 persen plastik, sembilan persen berupa kertas, 4,3 persen bahan metal dan 12,7 persen berbagai macam bentuknya mulai dari kaca, kayu, dan bahan lainnya.

Berdasarkan komposisi tersebut, menurut Dini, penumpukan sampah plastik yang tidak terkelola akan merusak ekosistem lingkungan dan berdampak bagi kesehatan manusia karena sifatnya yang tidak mudah terurai.

Sedangkan hasil penelitian ahli sampah Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Enri Damanhuri bersama timnya di Bali menunjukkan bahwa 14 persen total sampah di sana merupakan plastik. Dan dari total angka tersebut, 44 persen belum terkelola dan mencemari lingkungan.

Baca juga: Penyelam Inggris rekam sampah plastik di laut Bali

"Sekitar 28 persen sampah-sampah plastik tersebut masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir-red) dan 27 persen sudah didaur ulang," lanjutnya.

Penelitian terkait sampah plastik di Bali yang dilakukan selama enam bulan di 2017 ini, menurut dia, akan dilanjutkan, dan akan lebih lanjut meneliti alur sampah ke sungai.

Baca juga: Bali Produksi 750 Ton Sampah Plastik per Hari

"Kami hitung yang direcovery dan dijual. Kami estimasi berapa yang lari ke sungai. Belum selesai penelitiannya, kami akan lanjutkan meningkat sampah plastik bermasalah di sungai," ujar dia.

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar