Peternak sapi perah perlu dukungan regulasi agar lebih bergairah

Peternak sapi perah perlu dukungan regulasi agar lebih bergairah

Dokumentasi Petugas melakukan pemerahan susu sapi yang akan diberikan kepada anak sapi hasil pembibitan di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Cijeruk, Bogor, Jabar, Senin (12/1/2015). BET yang berada di kawasan kaki gunung Salak tersebut menghasilkan bibit ternak unggul dengan menyuntikan embrio dari sapi donor impor berkualitas dan hasil pembibitan tersebut disebar ke peternak di Indonesia guna menghasilkan ternak-ternak berkualitas. (ANTARA FOTO/Jafkhairi)

Bogor (ANTARA News) - Peternak sapi perah membutuhkan dukungan regulasi agar lebih bergairah menjalankan usaha memproduksi susu segar dalam negeri (SSDN).

"Kondisi peternakan Indonesia saat ini seperti Selandia Baru tahun 1970 atau Amerika tahun 1950, peternak mulai bergairah tetapi banyak regulasi yang tidak mendukung," kata Deddy Fakhruddin Kurniawan, peternak muda berprestasi asal Malang, Jawa Timur, dalam seminar di Bogor, Rabu.

Dalam Seminar Nasional Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Susu Segar Dalam Negeri :Sharing Peternak Muda, Deddy memaparkan kondisi peternakan Indonesia saat ini.

Menurutnya era saat ini memerlukan peternakan yang terintegrasi, tidak hanya di kadang saja, tetapi mampu mengolah dan memproduksi produk olahannya.

"Zaman sudah berubah, gaya generasi berubah, konsumen berubah, bisnis yang terintegrasi, agar ternak bahagia, petenak sejahtera," katanya.

Deddy mengatakan pemerintah harus fokus melindungi peternak lokal, tidak hanya fokus pada meningkatkan SSDN, karena peternak lokal merupakan bagian dari NKRI. Saat ini 90 persen peternak yang ada adalah peternakan rakyat.

Berdasarkan data BPS lebih dari 60 persen peternak di Indonesia usianya rerata 55 tahun. Artinya peternakan tidak menarik untuk anak muda Indonesia. Ketika sebuah profesi tidak menarik bagi anak muda, lambat laun pasti akan habis.

Jumlah peternak rakyat semakin menurun, begitu pula kontribusi SSDN, minat generasi muda menurun, usia peternak semakin menua, otomatis bisnis peternakan ikut menua. Jumlah koperasi susu yang aktif juga berkurang, dari 55 koperasi yang tercatat cuma 15 koperasi yang aktif.

"Pengalaman saya, bisnis itu punya nyawa, butuh regenerasi anak-anak muda," katanya.

Persoalan lainnya, harga susu rendah karena kualitas rendah. Kualitas rendah karena peternak menghemat. Peternak berhemat karena tidak untung, mereka tidak untung karena harga susu rendah.

"Ini jadi masalah yang rumit luar biasa," katanya.

Ia mengatakan, jika peternak hanya fokus pada produksi susu dengan harga jual yang rendah, keuntungan yang didapat juga tidak signifikan didapatkan. Oleh karena itu untuk memajukan peternakan tidak cukup hanya memproduksi, tetapi perlu solusi lain, bisnis yang terintegrasi.

Dengan adanya bisnis peternakan yang terintegrasi dikelola oleh anak muda, usaha peternakan semakin bergairah, tetapi itu perlu didukung oleh regulasi yang dapat mengembangkan usaha peternaka tersebut.

Deddy mengatakan regulasi yang diperlukan disesuaikan dengan segmentasi peternakannya. Untuk peternakan kecil dibutuhkan regulasi dalam sisi mendukung peningkatan keahlian tata cara beternak. Untuk peternakan menengah diperlukan regulasi untuk membuat organisasi atau jaringan yang kuat, izin edar produk yang dihasilkan jadi lebih gampang.

"Jadi regulasinya tergantung pada segmennya apa," kata dokter hewan ini.

Regulasi lainnya yang diharapkan terkait masalah pakan. Peternak membutuhkan regulasi yang mengatur jenis pakan yang boleh beredar dengan standar misalnya x. Saat ini pakan yang beredar sangat liar, dengan standar mulai dari a sampai z.

Kondisi ini lanjutnya, membuat peternak tidak punya perlindungan apakah mendapatkan pakan yang benar atau pakan yang tidak benar, dikarenakan regulasi yang tidak jelas. Seperti konsekuensi bagi pakan yang tidak jelas atau reward bagi pakan yang benar.

"Regulasi tentang pakan ini belum kita liat, pakan dan organisasi, serta perizinan produk, itu yang kita perlukan," kata Deddy.

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar