Kementan: Kebutuhan herbisida masih tinggi

Kementan: Kebutuhan herbisida masih tinggi

Petani sedang menerima pelatihan pengendalian gulma di Sidrap, Sulsel, Rabu (9/5/2018). (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan kebutuhan herbisida atau pengendali gulma baik yang berbahan aktif paraquat maupun glifosat di Indonesia saat ini masih cukup tinggi.

Direktur Pupuk dan Pestisida, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan Muhrizal Sarwani di Jakarta, Jumat, mengatakan dengan asumsi luas lahan kebun 11 juta ha, lahan rawa yang berfungsi 2 juta ha, jagung sekitar 5 juta na, jika dikalikan dosis nya per ha, maka kebutuhan herbisida 54 juta liter paraquat dan 72 juta liter glifosat.

"Produksi herbisida kita masih dibawah kebutuhan, jadi peluang pasar masih menjanjikan," katanya.

Menurut dia, tingginya kebutuhan racun rumput ini karena banyak kebun sawit, lahan rawa di Kalimantan dan Sulawesi.

Selain itu, program Kementerian Pertanian (Kementan) yang mengembangkan lahan jagung juga menambah kebutuhan herbisida.

"Peluang pasar produk herbisida sangat menjanjikan. Pemegang pendaftaran biasanya jeli melihat pasar," katanya.

Sementara itu, PT Bayer Indonesia memanfaatkan peluang itu dengan memperkenalkan produk herbisida pintar, Council Complete di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) provinsi Sulawesi Selatan, pada, Rabu (9/5) lalu.

Kepada lebih dari 1.000 petani, Team Lead Customer Marketing Manager & Grower Marketing Manager Rice Jarot Warseno menjelaskan, herbisida pintar untuk tanaman padi tersebut sangat efektif mengendalikan semua jenis gulma sebelum gulma tersebut tumbuh (herbisida pra tumbuh) dan/atau mengendalikan semua jenis gulma setelah tumbuh (purna tumbuh) baik gulma rumput-rumputan, gulma teki-tekian dan gulma daun lebar.

Menurut dia, Kabupaten Sidrap dipilih sebagai tempat peluncuran herbisida pintar tersebut karena wilayah tersebut memiliki kontribusi besar dalam pencapaian target produksi padi di Sulawesi Selatan.

Namun demikian, lanjutnya, di salah satu sentra produksi padi Sulsel tersebut masalah gulma tetap menjadi hal yang selalu dihadapi oleh petani padi, apalagi ketika akan memasuki musim hujan.

"Harapannya para petani di sini, dapat menggunakan Council Complete sehingga dapat meningkatkan produksi padi dan mampu membantu meningkatkan persediaan stok pangan nasional," ujarnya.

Budi (54), salah satu petani asal Sidrap mengeluhkan bahwa gulma sangat mengganggu pertumbuhan padi miliknya,

"Saya dan teman-teman petani di Sidrap biasa melakukan penyemprotan hingga tiga kali dalam masa tanam untuk menghindari gulma tumbuh di areal persawahan kami, namun gulma tetap terlihat di beberapa lokasi," katanya.

Pewarta: Subagyo
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kementan & Kemendag gandeng KPK perbaiki tata kelola impor

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar