Warga NTT diminta waspadai diare

Warga NTT diminta waspadai diare

Ilustrasi (Flickr)

Kupang (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penyakit diare dengan tidak mengkonsumsi air minum yang tercemar bakteri selama daerah berbasis kepulauan itu dilanda kemarau panjang.

"Kami mengingatkan masyarakat NTT mewaspadai terjadinya diare selama musim kemarau dengan mengkonsumsi air minum yang higenis. Masyarakat diharapkan tidak mengkonsumsi air minum yang tercemar dengan bakteri karena dapat menimbulkan penyakit," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan NTT, Theresia S Ralo ketika ditemui di Kupang, Rabu.

Masyarakat NTT kata dia, perlu mengetahui ciri-ciri air yang sudah tercemar sebelum mengkomsinya sebagai air minum, seperti airnya keruh, air memiliki rasa aneh dan berbau.

Ia mengatakan, kontaminasi pada air minum yang akan dikonsumsi berdampak pada masalah kesehatan seperti terjadinya diare.

Pada musim kemarau yang sedang melanda NTT kata Theresia, selalu diikuti dengan menurunnya debit air yang akan berpengaruh pada pola konsumsi air minum yang kurang sehat.

"Kekurangan air selalu terjadi pada musim kemarau, sekalipun demikian masyarakat NTT harus tetap menjaga pola konsumsi air minum yang bersih dan sehat agar terhindar dari serangan penyakit diare karenan diare selalu diakibatkan air yang kurang sehat," kata Theresia.

Menurut dia, Dinas Kesehatan secara rutin melakukan sosialisasi terhadap masyarakat NTT tentang bahaya mengkonsumsi air minum yang tercemar sebagai upaya mengatasi serangan penyakit diare sehingga terwujudnya masyarakat NTT yang sehat.

Selain melakukan sosialisasi, pengawasan terhadap kuliatas air minum di pasaran di berbagai daerah di NTT terus dilakukan jajaran Dinas Kesehatan kabupaten/kota agar air mineral yang dikonsumsi bebas dari bakteri.

"Pengawasan terhadap kulitas air minum yang beredar di masyarakat terus dilakukan Dinas Kesehatan sehingga sejak tahun 2016-2017 tidak ada kasus penyakit diare di NTT," kata Theresia.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar