BI tidak ragu sesuaikan kembali suku bunga acuan

BI tidak ragu sesuaikan kembali suku bunga acuan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. (ANTARA/Sigid Kurniawan)

BI dalam banyak hal ingin meyakini adanya depresiasi atau ekspektasi depresiasi ..."
Jakarta (ANTARA News) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menegaskan bank sentral siap menerapkan langkah kebijakan moneter yang lebih kuat, termasuk tidak akan ragu untuk penyesuaian kembali suku bunga acuan guna menjaga stabilitas perekonomian di sisa tahun 2018.

"Kalau seandainya kita keluarkan bauran kebijakan seperti sekarang ini, kalau kondisi mengharuskan untuk kami kembali melakukan penyesuaian, maka kami tidak ragu," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia diputuskan untuk menaikkan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" senilai 25 basis poin menjadi 4,5 persen.

Baca juga: Bank Indonesia naikkan suku bunga acuan 25 bps

Tingkat bunga penyimpanan dana perbankan di BI (Deposit Facility) juga naik 25 bps menjadi 3,75 persen, dan suku bunga penyediaan dana dari BI ke perbankan (Lending Facility) sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen.

Setelah pengetatan kebijakan suku bunga acuan Mei 2018, Agus menegaskan bahwa arah kebijakan moneter BI adalah netral. Bank Sentral masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di rentang 5,1 hingga 5,5 persen untuk tahun ini.

Mantan Menteri Keuangan RI itu menuturkan kenaikan suku bunga acuan pada periode ini juga merupakan bauran kebijakan BI untuk memulihkan stabilitas perekonomian domestik dan mencegah tingkat pelemahan rupiah yang lebih dalam.

Jika pelemahan rupiah terus berlanjut, menurut dia, maka bisa menjadi ancaman terhadap inflasi domestik yang di jangkar di 2,5 hingga 4,5 persen (yoy).

"BI dalam banyak hal ingin meyakini adanya depresiasi atau ekspektasi depresiasi yang dapat memimbulkan risiko kepada inflasi," ujarnya.

Baca juga: Kenaikan suku bunga BI perlu untuk kurangi risiko

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi dari Januari hingga akhir April 2018 senilai 2,06 persen (year to date/ytd).

Kenaikan suku bunga acuan diharapkan dapat membantu menjaga iklim investasi agar modal asing bisa kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Modal asing yang masuk berbentuk valas akan membantu untuk memenuhi permintaan valas sehingga tidak ada kelangkaan yang dapat mengurangi nilai tukar rupiah.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menambahkan bahwa tren global saat ini adalah rezim suku bunga acuan naik, dan situasi ini bermula dari normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dan yang sudah direspon dengan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral di Malaysia, Singapura dan China.


 

Pewarta:
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar