Amerika Serikat tidak akan akui hasil pemilu Venezuela

Amerika Serikat tidak akan akui hasil pemilu Venezuela

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyapa pendukungnya saat penutupan reli kampanyenya di Caracas, Venezuela, Kamis (17/5/2018). (REUTERS/Carlos Jasso)

Buenos Aires (ANTARA News) - Pemerintah di Washington tidak akan mengakui hasil pemilihan presiden Venezuela, yang digelar pada Minggu, kata Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Sullivan kepada wartawan.

Amerika Serikat gencar mempertimbangkan pemberlakuan sanksi perminyakan terhadap Venezuela. Sullivan mengatakan bahwa tanggapan terhadap hasil pemilihan umum di Venezuela juga akan dibahas di pertemuan G20 di Buenos Aires pada Senin.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro diperkirakan terpilih kembali menjadi pemimpin enam tahun ke depan dalam pemilihan umum, diboikot kelompok oposisi utama dan dikecam sebagai "penghabisan" diktator.

"Kami harus memastikan bahwa tindakan kami sesuai dengan tujuan, yaitu menyasar pejabat korup dan bukan rakyat Venezuela," kata Sullivan seperti dilansir Reuters.

"Kami tidak ingin menghancurkan negara tersebut yang membuat proses pemulihan semakin sulit setelah demokrasi kembali ditegakkan," kata dia.

Baca juga: Minyak naik dipicu perselisihan Venezuela-Conoco dan kekhawatiran sanksi Iran

Baca juga: Venezuela kecam "kebijakan supremasi" Pompeo, "rezim" Trump


Sullivan mengatakan bahwa sanksi terkait aktivitas minyak di Venezuela sebagai "sebuah kebijakan yang sangat signifikan, yang kini telah dipertimbangkan secara aktif."

Terkait Suriah, Sullivan mengaku tidak mengetahui adanya rencana penarikan bantuan Amerika Serikat di kawasan utara negara tersebut.

Pada Jumat, CBS memberitakan bahwa pemerintahan Trump telah menarik semua bantuan di kawasan utara Suriah, yang menunjukkan niat Gedung Putih untuk meninggalkan negara tersebut segera setelah kelompok bersenjata ISIS dikalahkan.

"Saya tidak mendengar keputusan apa pun dari pemerintahan ini untuk menarik bantuan dari kawasan utara Suriah," kata dia kepada Reuters dan Bloomberg.

"Pemerintah Amerika Serikat masih bertekad mengalahkan IS dan melindungi kepentingan Amerika Serikat di kawasan Suriah dan Irak," kata dia.

(Uu.G005)

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar