Pemkot Mataram tak tambah pengungsi Ahmadiyah

Pemkot Mataram tak tambah pengungsi Ahmadiyah

Ilustrasi - Sejumlah jamaah ahmadiyah melaksanakan sholat jumat. (ANTARA/Fatahillah)

Mataram (ANTARA News)- Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, tidak menambah lagi pengungsi jemaah Ahmadiyah di kota ini, sebab pengungsi yang sudah bertahun-tahun di Asrama Transito hingga kini masih dalam proses penyelesaian.

"Karena itu, kami berharap masalah jemaah Ahmadiyah di Kabupaten Lombok Timur dapat diselesaikan oleh pemerintah setempat secara arif dan bijaksana dan jumlah pengungsi Transito jangan ditambah lagi," kata Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang di Mataram, Senin.

Pernyataan itu disampaikannya menanggapi kemungkinan dialihkannya jemaah Ahmadiyah pascapenyerangan rumah mereka di Kabupaten Lombok Timur ke Kota Mataram bersama dengan 34 kepala keluarga (KK) di Asrama Transito Majeluk.

Dalam hal ini, katanya, pemerintah kota tidak khawatir kejadian yang menimpa warga Ahmadiyah di Lombok Timur membias kepada warga jemaah Ahmadiyah di Mataram.

Pasalnya, penduduk Kota Mataram sangat heterongen sehingga mampu menjaga toleransi dan senang dengan kondisi kehidupan di Mataram yang cukup aman dan kondusif.

"Insya Allah, kami yakin masyarakat bisa memahami keberadaan jemaah Ahmadiyah sehingga sampai saat ini warga Ahmadiyah bisa hidup nyaman di Mataram," katanya.

Terkait dengan itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat di kota ini untuk saling hormat menghormati serta toleransi, agar konflik yang terjadi di Lombok Timur tidak terjadi di Mataram.

"Masyarakat jangan cepat tersulut dan mempercayakan penyelesaian masalah ini kepada aparat pemerintah secara arif dan bijaksana," katanya lagi.

Lebih jauh Martawang mengatakan, pemerintah kota saat ini sedang berusaha untuk menyelesaikan masalah warga Ahmadiyah di Mataram bersama aparat di Kantor Sekreteriat Presiden (KSP), dengan target Mataram bebas dari pengungsi.

Untuk menjadikan Mataram bebas pengungsi, ada tiga opsi yang akan dilakukan KSP bersama pemerintah kota. Opsi pertama adalah program relokasi dengan pembangunan rumah lapak secara menyebar.

"Kemudian opsi transmigrasi dan terakhir menempati rumah susun sederhana sewa (rusunawa), agar mereka bisa membaur dengan warga lainnya," katanya.

Sementara koordinator Ahmadiyah di Transito Syahidin yang dikonfirmasi melalui telepon selulernya mengatakan, sepakat dengan apa yang disampaikan oleh pemerintah kota terhadap warga Ahmadiyah di Lombok Timur.

"Kami menyarankan warga Ahmadiyah Lombok Timur kembali ke rumah masing-masing. Kami saja yang sudah bertahun-tahun mengungsi di Transito masalahnya belum selesai," katanya.

Karenanya, ia berharap agar pemerintah bisa segera mengambil berbagai langkah-langkah bijaksana dalam penanganan pengungsi agar warga Ahmadiyah bisa hidup tanpa label pengungsi.

Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar