Penyintas kecelakaan pesawat Kuba dalam kondisi kritis

Penyintas kecelakaan pesawat Kuba dalam kondisi kritis

Pemadam kebakaran berada di lokasi bangkai pesawat Boeing 737 yang jatuh di wilayah pertanian di Boyeros, sekitar 20 km selatan Havana, sesaat setelah lepas landas dari bandara udara utama Havana di Kuba, Jumat (18/5/2018). (REUTERS/Alexandre Meneghini)

Havana, Kuba (ANTARA News) - Ketiga penyintas dalam kecelakaan pesawat tragis di Kuba masih berada dalam kondisi sangat kritis, kata Direkrut Rumah Sakit Calixto Garcia di Ibu Kota Kuba, Havana, Carlos Alberto Martinez, pada Senin (21/5).

Sementara, 110 orang tewas setelah pesawat jatuh ke tanah dan terbakar, di lokasi yang hanya berjarak satu kilometer dari Bandar Udara Internasional Joser Marti di Havana.

Baca juga: Kuba pastikan 110 tewas dalam tragedi udara terburuk sejak 1989

"Tim medis melakukan operasi dan melaksanakan pengobatan secara bertanggung jawab, dalam menjaga kondisi pasien," kata Martinez kepada wartawan dalam satu taklimat.

Namun, parahnya luka membuat pemeriksaan jadi suram, terutama buat Grettel Landrovell (23), yang dioperasi lagi akibat luka di otak, demikian laporan Xinhua.

Irisan dibuat untuk mengurangi tekanan di daerah itu dan meningkatkan peredaran darah.

Pemimpin tim medis mengatakan fakta bahwa para penyintas masih hidup 72 jam setelah kecelakaan adalah satu "langkah maju" dalam proses rumit tersebut.

Namun, para penyintas itu tetap menghadapi risiko tinggi komplikasi pada masa depan, ia menambahkan.

Mailen Diaz (19) menjalani operasi pada tulang leher dan telah memperlihatkan perbaikan pada reaksi syaraf, sementara Emiley Sanchez (39) masih dirawat karena menderita luka bakar di lebih 41 persen tubuhnya.

Para pejabat belum mengetahui apa penyebab kecelakaan pesawat tersebut, yang disewa oleh perusahaan penerbangan Cubana dari perusahaan pesawat carteran Meksiko, Damojh, untuk penerbangan dalam negeri.

Baca juga: Pesawat jatuh di Kuba, kotak hitam ditemukan dalam kondisi bagus
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar