Jerman dan Israel beda pendapat soal Iran

Jerman dan Israel beda pendapat soal Iran

Kanselir Jerman Angela Merkel (REUTERS/Hannibal Hanschke )

Berlin, Jerman (ANTARA News) - Kanselir Jerman Angela Merkel dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sedang berkunjung ke Jerman, sepakat mencegah Iran membuat senjata nuklir tetapi berbeda pendapat mengenai cara mewujudkankannya, kata Merkel seperti dikutip Xinhua.

Merkel mengeluarkan pernyataan tersebut dalam taklimat bersama dengan Netanyahu yang berada di Eropa untuk membujuk sekutunya mendukung seruannya  mengubah kesepakatan nuklir Iran dan mendorong Iran ke luar Suriah.

Merkel mengatakan sebelum kesepakatan yang ditaja PBB itu, Iran sudah hampir mampu membuat senjata semacam itu dan kesepakatan tersebut akan menjamin "transparansi lebih besar".

Merkel berjanji mempertahankan kesepakatan nuklir dengan Iran itu kendati Amerika Serikat keluar, guna mencegah Republik Islam ini memiliki senjata nuklir.

Namun, Netanyahu mengatakan kesepakatan itu akan memberi izin kepada Iran untuk mengembangkan uranan diperkaya dalam jumlah "tak terbatas" pada masa depan Ssebagai imbalan tidak memperkaya uranium sekarang", yang ia sebut tidak bisa diterima baik.

Netanyahu menyeru dunia menjatuhkan sanksi ekonomi atas Iran, dan menuduh Iran "menerima uang untuk mengobarkan perang", sebagai akibat dari kesepakatan nuklir dan penanaman modal asing yang mengalir ke dalam negeri Iran.

"Kita bersatu pada sasaran bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan menerima senjata nuklir," kata Merkel seraya menambahkan perbedaan hanya ada pada cara mencapai tujuan itu.

Merkel mengatakan kedua negara  sependapat mengenai topik itu tapi berkeras bahwa ada konsensus mengenai diakhirinya keterlibatan Iran dalam perang saudara di Suriah.

Selain itu, Merkel kembali menyatakan Israel dan Palestin dapat terus mengandalkan penyelesaian dua-negara.

"Pada saat ini, saya kira ada situasi yang sangat rumit, yaitu tak ada pembicaraan," kata Merkel, menunjuk konflik baru-baru ini dan pertikaian mengenai pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Amerika Serikat.

Ketika menjawab pertanyaan wartawan mengenai kapan Israel akan berhenti menduduki wilayah Palestina di Jalur Gaza, Netanyah mengatakan Israel "bersedia merundingkan penyelesaian perdamaian" tapi menambahkan bahwa Jalur Gaza dikuasai oleh HAMAS dan faksi lain yang menyerukan penghancuran Israel.

(C003)

Pewarta: Chaidar Abdullah
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar