counter

Literasi Anti Hoax - "Think before you click", mengembalikan kemanusiaan kita

Literasi Anti Hoax - "Think before you click", mengembalikan kemanusiaan kita

ilustrasi (ANTARA News/Handry Musa/2017)

Click before you think dan bukan sebaliknya think before you click, inilah paradigma yang diam-diam dan tanpa banyak disadari menggelinding di ranah media sosial
Jakarta (Antara/JACX) - Silang pendapat dan persitegangan di media sosial yang sering berujung pada proses hukum sekali lagi menunjukkan negativitas sosial.

Para pengguna medsos begitu mudah mengunggah gambar atau menyebarkan gambar kiriman orang, membuat ujaran atau merespon ujaran orang lain tanpa memastikan kebenaran informasi yang digunakan dan tanpa menimbang dampak-dampak ujaran bagi orang lain dan bagi diri sendiri.

Click before you think dan bukan sebaliknya think before you click. Inilah paradigma yang diam-diam dan tanpa banyak disadari menggelinding di ranah media sosial. Para pengguna medsos begitu spontan dan instan dalam berkata-kata dan menanggapi orang lain.

Mereka begitu mudah lupa bahwa medsos itu bukan murni ruang privat atau wahana komunikasi antar orang, melainkan merupakan percampuran antara ruang privat dan ruang publik sekaligus, wahana komunikasi antar orang sekaligus dan komunikasi publik.

Jika hari ini facebook digunakan 2,2 milyar manusia di muka bumi, maka setiap ujaran pengguna facebook berkemungkinan untuk tersebar pada 2,2 milyar manusia itu. Maka kehatihatian dan kemampuan atau kemauan bertabayun (check and recheck) menjadi syarat.  

Para pengguna medsos sering baru menyadari bahwa ujarannya di medsos merugikan atau menyinggung perasaan orang lain setelah ujaran itu terlanjur tersebar ke mana-mana. Ujaran yang terlanjur tersebar kemana-mana (viral), direspon oleh banyak orang, tidak bisa ditarik lagi.

Dan ketika nasi telah menjadi bubur, dalam pengamatan penulis, begitu sulit pengguna medsos untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Alih-alih mereka membuka front permusuhan dengan melibatkan orang-orang di sekelilingnya, dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang asal memojokkan pihak lain. Tak pelak lagi, perselisihan dan sengketa hukum pun tak terhindarkan.  

Satu lagi ciri media sosial adalah menghapuskan pertemuan tatap muka sekaligus komunikasi interpersonal. Dalam komunikasi tatap muka dan komunikasi antar orang, ada kedekatan emosional, ada timbang-menimbang rasa, ada tepa-seliro dengan lawan bicara.

Kita bisa mengukur perasaan lawan bicara sebelum kita benar-benar berbicara. Kita bisa membaca ekspresi lawan bicara, apakah dia senang atau sebaliknya, apakah dia berkenan dengan ujaran kita atau sebaliknya.

Sedangkan di medsos, empati dan rasa-merasa itu tidak mendapatkan tempat lagi. Kita tidak tahu bagaimana ekspresi lawan bicara kita. Bahkan kita tidak tahu siapa sebenarnya lawan bicara kita. Yang kita hadapi adalah layar smartphone atau komputer.

Maka empati dan tepo seliro menjadi menipis. Apriori atau miskomunikasi yang merebak. Kita bertindak spontan dan tanpa pikir panjang. Sekali lagi, click before think. Hajar dulu, baru dipikir belakangan.

Maksud kita menyampaikan kritik atau pendapat di media sosial mungkin baik. Namun ketika hendak menyampaikan kritik itu secara terbuka di medsos, semestinya kita mempertimbangkan dampaknya.

Sangat mungkin, kritik setengah-terbuka itu menimbulkan ketersinggungan atau kerugian pihak tertentu? Apa benar data yang kita gunakan adalah data yang sahih? Apa benar argumentasi dan opini kita dapat dipertanggungjawabkan? Medsos mendorong kita untuk menjadi yang pertama dalam berujar, merespon dan berteriak tanpa perlu piker panjang.

Maka, sekali lagi, bertabayun sangat disarankan dalam hal ini. Kemampuan dan kesadaran bertabayun mesti dimiliki oleh semu netizen atau pengguna medsos.

Kasus-kasus gugatan hukum akibat ujaran di media sosial yang marak belakangan ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua pengguna dan penikmat media sosial. Kita sering kelihatan sisi kemanusiaan kita begitu berselancar di medsos. Kemanusiaan dalam arti kita adalah makhluk yang sesungguhnya memiliki kekhususan yang tidak dimiliki makhluk lain: kemampuan untuk berpikir sebelum bertindak, berempati kepada pihak lain, kemampuan menimbang-nimbang dampak tindakan.

Kita semestinya mampu menjinakkan teknologi, tetapi justru disetir oleh teknologi. Kita berkomunikasi dan berinteraksi sosial bukan berdasarkan kemanusiaan kita, melainkan berdasarkan apa yang dkehendaki oleh teknologi itu: spontan, instan, serba cepat, tanpa pikir panjang. Kita selalu didorong untuk menjadi yang pertama berujar dan mengunggah gambar.

Kita selalu distimuli untuk berkomentar paling tajam dan menggigit.  Bertabayun dan check and recheck dilupakan sebagai metode. Alih-alih menguasai teknologi, kita justru diperalat olehnya.

Para pengguna medsos tetaplah manusia yang semestinya memiliki kemampuan berpikir sebelum bertindak, menimbang-nimbang dampak sebelum benar-benar mengucapkan sesuatu di depan banyak pihak. Think before you click. Mari kembalikan kemanusiaan kita di era media sosial!

*Agus Sudibyo, Direktur Indonesia New Media Watch

 

Pewarta: Agus Sudibyo*
Editor: Panca Hari Prabowo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Polri perkuat literasi anti hoaks

Komentar