counter

Arus Mudik

Waspadai pembajakan siber, jangan mengecas ponsel sembarangan

Waspadai pembajakan siber, jangan mengecas ponsel sembarangan

Ilustrasi. (ANTARA News/Natisha)

Penggunaan kabel yang sama, menjadi jalan bagi peretas untuk masuk dan mendapatkan akses ke ponsel selama proses pengisian
Jakarta (ANTARA News)- Pemerhati Teknologi Informasi Yudhi Kukuh mengingatkan pemudik untuk tidak mengecas atau mengisi daya listrik telepon seluler dan perangkat lain di sembarang tempat untuk mencegah pembajakan siber.

"Tempat umum yang terlihat aman, bisa jadi berisiko pembajakan," ujar Yudhi di Jakarta, Selasa.

Dia menambahkan pembajakan siber terus berkembang seiring perubahan zaman. Pada masa lampau pembajakan, harus dilakukan melalui layanan internet. Tetapi saat ini, hal tersebut bisa dilakukan melalui tempat isi ulang baterai ponsel. Artinya tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun, tempat istirahat, rumah makan dan lainnya berpotensi menjadi tempat peretasan.

Yudhi menjelaskan teknik peretasan terbaru yang dikenal dengan "juice jacking" menjadi ancaman baru karena teknik tersebut mampu meretas gadget melalui kabel data USB yang biasa digunakan untuk mengisi ulang.

"Penggunaan kabel yang sama, menjadi jalan bagi peretas untuk masuk dan mendapatkan akses ke ponsel selama proses pengisian," kata Yudhi yang merupakan pakar dari Prosperita Mitra Indonesia tersebut.

Peretas memanfaatkan kabel data untuk mengakses data telepon atau menyuntikkan kode berbahaya ke perangkat. Pencurian data dengan metode tersebut menjadi ancaman terbesar bagi pengguna gawai setiap kali mengisi ulang baterai.

Oleh karena itu, Yudhi meminta agar pemudik yang sedang kehabisan baterai di jalan, agar berhati-hati setiap kali ingin mengisi ulang atau mengecas ponsel atau gadget yang dibawa.

Dia memberikan saran, bagi para pemudik untuk membiasakan mengisi baterai telepon di rumah dan kantor, membawa perangkat cadangan daya atau "power bank", hindari pengisian ulang di tempat umum, hanya mengisi ulang dengan menggunakan kabel data milik sendiri.

"Pemilik ponsel harus mengunci telepon, jika telepon terkunci dan tidak dapat diakses maka bisa menghindari pembajakan siber. Namun perlu diingat bahwa peretasan berlangsung dalam hitungan detik, jadi pastikan ponsel harus benar-benar dalam keadaan terkunci," cetus dia.

Baca juga: Timnas Inggris dapat pelatihan lindungi gadget dari peretas jelang Piala Dunia

Baca juga: Polri minta PPATK telusuri aliran dana Surabaya Black Hat

Baca juga: CIA nyatakan keterlibatan Rusia kacaukan Pemilu AS

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar