Pengamat: kunjungan Yahya ke Israel lukai Palestina

Pengamat: kunjungan Yahya ke Israel lukai Palestina

Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf melambaikan tangan sebelum mengikuti proses pelantikan sebagai anggota Wantimpres oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/5/2018). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Jakarta (ANTARA News) - Pengamat masalah Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Doktor Yon Machmudi mengatakan kunjungan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf ke Israel jelas melukai perasaan warga Palestina yang sedang berduka.

Kepada Antara di Jakarta, Rabu, Yon yang juga Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam UI itu mengatakan bahwa Yahya Staquf seharusnya membatalkan kunjungan itu demi menghormati kebijakan pemerintah dan dukungan rakyat Indonesia terhadap Palestina.

Sebelumnya, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf memenuhi undangan Israel menjadi pembicara dalam acara AJC (American Jewish Comittee) Global Forum di Yerusalem, Israel, Minggu (10/6).

"Sikap Indonesia yang menolak kedaulatan negara Israel tidak berubah dan sebagai warga negara seyogianya memperkuat sikap itu. Dengan kunjungan itu, Israel akan mendapatkan manfaat jauh lebih besar dan dapat diklaim sebagai keberhasilan diplomasi negara tersebut," kata Yon.

Ia mengatakan bahwa kunjungan Yahya kontraproduktif terhadap kebjakan pemerintah Indonesia dalam menyikapi isu Palestina.

"Sikap tegas RI yang menunda visa rombongan Israel beberapa hari sebelumnya karena keprihatinan pemerintah terhadap banyaknya korban tewas dari warga sipil Palestina akan dimentahkan oleh kunjungan itu. Apalagi, beliau itu `kan membawa nama kepresidenan," ujarnya.

Baca juga: Jokowi tegaskan Yahya Staquf ke Israel untuk urusan pribadi

Menyesalkan

Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR RI Jazuli Juwaini juga menyesalkan kunjungan anggota Wantimpres Yahya Cholil Staquf ke Israel tersebut.

Dalam siaran pers yang diterima Antara, Jazuli mengatakan bahwa hal ini membuktikan Yahya tidak sensitif terhadap perjuangan rakyat Palestina yang totalitas didukung oleh Pemerintah dan rakyat Indonesia sebagai amanat UUD NRI 1945.

"Saya sungguh menyesalkan penerimaan undangan itu atas dalih apa pun. Apalagi, dilakukan oleh pejabat sekelas Watimpres. Sungguh sikap pribadi yang tidak sensitif atas totalitas dukungan pemerintah dan rakyat Indonesia atas perjuangan Palestina," tegas Jazuli.

Pemerintah RI, lanjut anggota Komisi I DPR RI itu, secara tegas tidak membuka sedikit pun ruang diplomasi untuk Israel karena dianggap negara agresor yang terbukti menjajah dan melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina selama puluhan tahun. Israel juga mengabaikan puluhan resolusi PBB.

"Lalu, bagaimana mungkin seorang yang melekat padanya jabatan sebagai penasihat Presiden dengan iktikad baik memenuhi undangan lembaga yang jelas didanai Israel untuk tujuan diplomasi negara penjajah ini?" tanya Jazuli geram.

Ketua Fraksi PKS ini makin menyesalkan sikap Yahya Cholil Staquf karena dilakukan di tengah kecaman dunia atas pembantaian Israel yang menewaskan lebih dari 60 demonstran Palestina dan melukai 900 orang lainnya hanya dalam sehari menjelang pembukaan Kedubes Amerika di Yerussalem beberapa waktu lalu.

"Atas tindakan brutal Israel itu, puluhan negara mengecam keras. Bahkan, tokoh pemimpin dan selebritis dunia turut melakulan aksi boikot terhadap semua kegiatan dan produk Israel. Ini seorang tokoh dan pejabat publik negara yang selama ini terdepan dalam menyuarakan solidaritas kemanusiaan atas Palestina justru menyambut undangan Israel," kata Jazuli.

Jazuli mengatakan bahwa insiden ini harus menjadi yang terakhir dan jangan terulang kembali segala tindakan yang memberi ruang bagi mulusnya diplomasi Israel untuk melanggengkan penjajahan Palestina.

"Jangan kita tertipu dengan niat busuk mereka untuk menjustifikasi sikap agresor mereka," ujarnya.

Baca juga: Ma'ruf Amin: keberangkatan Yahya Staquf ke Israel tanggung jawab pribadi

Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar