counter

Arus Mudik

Mereka yang bersepeda motor di Pantura Brebes

Mereka yang bersepeda motor di Pantura Brebes

Pemudik bersepeda motor melintasi kawasan Jalan KH Noer Alie, Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (12/6/2018). H-3 Idulfitri 1439 H . (ANTARA /Dhemas Reviyanto)

Brebes, Jawa Tengah, (ANTARA News) - Dari tahun ke tahun, Jalur Pantura Brebes, Jawa Tengah menjadi jalur yang diserbu para pemudik yang mengendarai sepeda motor.

Mereka kerap kali tidak memedulikan risiko tingkat kecelakaan yang tinggi dan tetap memilih kendaraan roda dua sebagai pilihan transportasi mereka untuk pulang kampung.

Keputusan mereka memang mengundang keprihatinan tersendiri, termasuk dari pemerintah yang menyediakan layanan mudik gratis bagi para pemudik bersepeda motor.

Namun, dengan berbagai alasan khusus mereka yang beragam, pemudik berkendaraan roda dua tetaplah mewarnai perjalanan pemudik dari tahun ke tahun.

Jalur Pantura Brebes menjadi salah satu jalur favorit yang pasti dilalui para pengendara sepeda motor.

Pada H-2 Lebaran tahun ini misalnya, beberapa ruas jalan pantura menuju arah timur terlihat ramai oleh pemudik yang menggunakan sepeda motor sejak pagi hari mulai dari wilayah Kabupaten Brebes hingga memasuki Kabupaten Tegal, tepatnya di Kecamatan Kramat.

Bahkan, rata-rata pemudik dengan pelat nomor wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat membawa sejumlah barang bawaan yang memenuhi sepeda motor.

Tak sedikit juga pemudik yang membawa anak-anak kecil, meski telah diingatkan bahwa perjalanan tersebut membahayakan.

Selain memadati sejumlah ruas jalan pantura, pemudik juga tampak di sejumlah "rest area" dan SPBU yang ada di sepanjang jalan pantura untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Meski begitu, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengklaim, pada arus mudik 2018, jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor sudah jauh berkurang.

Dari data tiga hari terakhir menunjukkan terjadi penurunan terhadap jumlah kendaraan roda dua 12 persen dan juga penurunan jumlah kecelakaan lalu lintas 30-40 persen.



Berbagai Alasan

Pengguna sepeda motor berpotensi mendominasi tingkat kecelakaan yang tinggi dalam arus mudik dari tahun ke tahun.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya menurunkan tingkat pengguna sepeda motor dalam musim mudik tahun ini.

Hanya saja, penggemar mudik dengan sepeda motor tetap saja muncul dengan berbagai alasan yang melatarbelakangi keputusan mereka.

Pemudik sepeda motor, Icung (40) bersama istrinya Soleha dan putrinya Riani (9) berangkat dari Tambun Bekasi Selasa (14/6) setelah shalat subuh? pukul 05.17 WIB mengunakan sepeda motor Honda Beat.

Icung, yang akan mudik ke Nyangkringan Weleri mengaku perjalanan mudik untuk tahun ini lebih lancar dari sebelumnya.

Ia berhenti untuk istirahat tiga kali di Tegal Gubug Cirebon, Gebang, Kaligangsa Timur Kota Tegal dan mengalami macet cuma saat melintas di Kota Cirebon.

Icung mengaku lebih memilih mudik dengan sepeda motor karena lebih praktis dan hemat. Di kampung halaman pun, ia bisa melakukan mobilitas kemanapun dengan lebih leluasa ketimbang jika ia tidak membawa kendaraan.

Hal yg sama disampaikan pemudik dari Bintaro Suroso (30) yang berangkat dari Bintaro pukul 06.00 WIB dengan tujuan Tempuran di Kabupaten Magelang.

Ia berhenti di Pemanukan untuk mengisi bensin. Selama perjalanan Suroso mengaku tidak mengalami kendala. Hanya saat melintas di Kota Cirebon sempat macet beberapa saat akan tetapi tidak lama lancar kembali.

Suroso memilih mudik menggunakan kendaraan roda dua sendiri, karena istri dan putri semata wayangnya sudah mudik menggunakan kendaraan umum.

Lebih jauh, ia juga membutuhkan kendaraan saat berada di kampung.

Namun, ia enggan untuk ikut program pemerintah, mudik dengan sepeda motor karena ia merasa malas mencari informasi dan menyiapkan keperluan untuk mendaftar.



Melintas Brebes

Brebes sebagai jalur lintas pantura yang hampir pasti dilalui pemudik menjadi tantangan tersendiri bagi pemudik sepeda motor.

Jalur pantai utara (pantura) sepanjang 12 kilometer di kawasan Tegal, Jawa Tengah itu, banyak terdapat jalan yang bergelombang dan menikung.

Mereka menghadapi tantangan penuh risiko itu ditambah dengan kemungkinan dan potensi risiko lain, termasuk kemacetan parah.

Kasat Lantas Polres Tegal AKP Maryadi selalu berpesan kepada pemudik untuk selalu berhati-hati dan waspada.

Titik-titik jalan yang bergelombang dan menikung itu, mulai dari perbatasan Brebes-Tegal hingga perbatasan Tegal-Pemalang.

Bahkan, ada beberapa titik jalan yang permukaannya tidak rata karena proses perbaikan penambalan aspal dan beberapa titik jalan yang berdebu akibat proses betonisasi jalan.

Maryadi menambahkan titik rawan kemacetan parah terpetakan terjadi di depan Terminal Bus Tegal, perempatan Pos Maya, perempatan Pasar Anyar, perlintasan kereta api di KM 151, dan di depan SPBU Kaligangsa.

Berdasarkan data pemetaan arus mudik Polres Tegal, terdapat sejumlah titik rawan kecelakaan akibat jalan yang masih bergelombang, yakni Jalan Raya Pantura Maribaya-Kramat, Jalan Kaligangsa, Jalan Martoloyo, Jalan Gajahmda, Jalan Yos Sudarso, Jalan Kolonel Sugiono, Jalan Cipto Mangunkusumo, Jalan Cabawan, Pasar Anyar, dan di depan Terminal Tegal.

Pemudik dengan menggunakan sepeda motor cenderung lebih mendapatkan perhatian aparat lantaran tingkat keamanannya yang kurang.

Terlebih mereka umumnya membawa muatan yang di luar standar bagasi yang ditetapkan.

Ke depan diharapkan pemudik sepeda motor lebih banyak mengurungkan niatnya untuk memilih kendaraan roda dua dan memilih moda transportasi lain yang lebih aman.T.H016/B/E008/C/M029) 14-06-2018 07:48:23

Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar