Kemenag Gunung Kidul imbau dakwah tidak jadi ajang politik praktis

Kemenag Gunung Kidul imbau dakwah tidak jadi ajang politik praktis

Dokumen foto umat Islam menyimak khutbah Shalat Idul Fitri. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Diharapkan khatib dan mubaliq yang menyampaikan menyajikan materi menyejukkan situasi kondisi."
Gunung Kidul (ANTARA News) - Kementerian Agama Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau agar para dai tidak menyalahgunakan mimbar dakwah Shalat Idul Fitri 1438 Hijriyah menjadi ajang politik praktis berkaitan dengan memasuki tahun politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

"Kami mengimbau kepada semua dai, khatib, untuk menyampaikan dakwah yang damai, membawa pesan damai, artinya tidak melakukan ujaran kebencian unsur menghasut. Kita harapkan para dai kita memberikan pesan kedamaian, kerukunan dan keamanan bersama. Itu yang kita harapkan," kata Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Gunung Kidul Aidi Johansyah di Gunung Kidul, Kamis.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Gunung Kidul Arif Gunadi berharap semua mubaliq dan khatib dapat menaati imbauan pihaknya, dan Tim Kemenag bersama masyarakat, termasuk Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) akan melakukan pemantauan secara acak terhadap lokasi Shalat Idul Fitri yang berpotensi digunakan untuk politik praktis.

"Kami meminta tim di lapangan, termasuk penyuluh dan Kepala KUA untuk bisa mendeteksi khatib atau mubalig yang dimungkinkan menimbulkan disharmonisasi. Kami akan meminta naskah yang akan disampaikan saat ceramah Ahalat Idul Fitri. Jika memang ada yang mencurigakan atau bermuatan politik, maka akan kami konfirmasi," katanya.

Kemenag Gunung Kidul sudah meminta kepada seluruh panitia Shalat Idul Fitri yang total ada 1.135 lokasi untuk mengirimkan naskah ceramahnya untuk mengantisipasi perpecahan di masyarakat.

Meski demikian, Arif menyatakan, pihaknya tetap akan mengklarifikasi jika ada yang berbau politik.

Ia berharap pelaksanaan Shalat Idul Fitri, baik di masjid maupun lapangan, dapat berjalan lancar dan menjaga nilai-nilai toleransi antar-umat beragama dan sesama Muslim.

Hal yang tidak diinginkan tersebut, menurut dia, tidak menutup kemungkinan bisa terjadi seperti dibeberapa tempat.

"Diharapkan khatib dan mubaliq yang menyampaikan menyajikan materi menyejukkan situasi kondisi. DIharapkan tidak membicarakan ranah politik, dan mempunyai sensitifitas sosial," katanya menambahkan.

Pewarta:
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar