Denpasar (ANTARA News) - Hotels & Resorts Alila Ubud, Kabupaten Gianyar, dan Alila Manggis, Kabupaten Karangasem, berhasil meraih status sertifikasi dari Green Globe, karena mereka mampu mendaur ulang 80 air yang dimanfaatkan. Program global itu mengakui komitmen kedua hotel dalam mengimplementasikan standar lingkungan hidup pada setiap aspek operasionalnya, termasuk kemampuan mendaur-ulang 80 persen air bekas pakai (limbah) untuk keperluan hotel lagi. Communication Manager Hotels & Resorts Alila Bali, Yessy Hidayat, dalam penjelasan kepada ANTARA News di Denpasar, Sabtu, menyebutkan bahwa sertifikasi merupakan langkah terakhir dari tiga tahapan yang harus dilalui dalam program Green Globe. Alila Ubud yang berlokasi di lembah Sungai Ayung dan Alila Manggis di antara kawasan laut dan perbukitan, berhasil memenuhi standar yang ditentukan dalam bidang penggunaan energi dan air, pembuangan sampah serta komitmen sosial. Sebelum disertifikasi, kedua hotel diaudit secara independen oleh pihak ketiga. Audit akan dilakukan setiap tahun untuk memonitor dan membantu kedua hotel meningkatkan komitmen sesuai standar yang ditentukan Green Globe. Green Globe adalah sistem sertifikasi yang berupaya membantu industri pariwisata dalam mencapai pariwisata berkesinambungan. Sistem sertifikasi ini merespons langsung isu-isu lingkungan hidup global, seperti efek rumah kaca, kerusakan biodiversiti, dan kekurangan sumber air. Menurut Yessy, Alila Ubud mampu meraih nilai sangat baik terutama karena berhasil mendaur ulang sampah lewat pengolahan kompos, berperanserta di masyarakat sekitar lewat inisiatif pembuatan perjanjian desa dan berhasil mendaur-ulang 80 persen dari penggunaan airnya. Alila Manggis juga mendapatkan hasil sangat memuaskan karena berhasil menurunkan konsumsi air dan listrik serta memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat dengan mempekerjakan 85 persen karyawan dari warga yang tinggal dalam jarak 20 km dari hotel. Green Globe juga menghargai keberhasilan Alila Manggis dalam memberikan pelatihan ekstensif kepada semua karyawannya mengenai lingkungan hidup dan komitmen sosial. Berkaitan program pelestarian lingkungan, Alila Bali menargetkan dapat mengurangi pemakaian kertas hingga 50 persen pada akhir tahun 2007 dan secara bertahap mengganti seluruh kertasnya menjadi 100 persen kertas daur ulang. Kedua hotel juga menyarankan mitra bisnis untuk tidak menggunakan mesin faksimile, melainkan mengoptimalkan penggunaan email demi mengurangi pemakaian kertas. Menurut Marketing Eksekutif Green Globe Asia Pasifik, Jason Keating, Alila Ubud dan Alila Manggis beserta seluruh karyawannya telah memberikan bukti bahwa usaha mereka dapat menciptakan perbedaan nyata dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Keberhasilan ini patut dicontoh oleh usaha-usaha lainnya. Sementara itu, Managing Director dan Chief Operational Officer Alila Hotels and Resorts, Frederic Simon, mengatakan bahwa penghormatan terhadap linkungan hidup dan masyarakat sekitar dapat dilihat dalam visi, "menciptakan kesinambungan yang harmonis antara konservasi alam, kemasyarakatan dan bisnis". "Kami percaya bahwa, untuk mencapai sukses jangka panjang, pengembangan hotel harus mengedepankan konservasi alam dan masyarakat", jelasnya. Oleh karenanya, cakupan usaha-usaha yang dilakukan Alila untuk menciptakan dampak positif terhadap masyarakat secara ekonomi, sosial dan budaya, jauh melebihi aspek operasional. Alila Ubud, katanya, saat ini giat menyelenggarakan paket wisata dalam kaitan memperkenalkan dan melestarikan tekstil asli Indonesia, terutama yang dibuat di Bali. Sedangkan Alila Manggis bekerja sama dengan perusahaan diving membuat program yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat demi pelestarian terumbu karang. "Kami juga aktif mendukung program-program lokal yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan isu-isu lingkungan hidup, seperti saat bertepatan Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dan Clean Up the World," ucapnya. Pada November 2006, kedua hotel diumumkan sebagai pemenang penghargaan Wild Asia Responsible Tourism, yang mendukung inisiatif konsevasi alam di Asia. Selain itu, kedua hotel juga menerima penghargaan Tri Hita Karana. Alila Ubud meraih piagam Emeral pada 2006 setelah meraih tiga kali emas selama tiga tahun berturut-turut. (*)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2007