Pilkada 2018

Sutarmidji, mantan penjual koran bakal jadi gubernur Kalbar

Sutarmidji, mantan penjual koran bakal jadi gubernur Kalbar

Wali Kota Pontianak Sutarmidji (Foto Antara Kalbar/Andilala)

Jakarta (ANTARA News) - Cagub Kalbar nomor urut tiga Sutarmidji yang di masa anak-anaknya pernah menjual koran di lingkungan Kantor Wali Kota Pontianak kini bakal menjadi orang nomor satu di Provinsi Kalimantan Barat.

Meskipun, bukan lahir di lingkungan keluarga yang kaya, tetapi karier Sutarmidji bisa sampai menjadi Wali Kota Pontianak selama dua periode, bahkan sebagai wali kota terbaik se-Indonesia.

Semasa kecil, Sutarmidji biasa menjajakan korannya di kawasan Pelabuhan Dwikora, kantor Bea Cukai Pontianak dan sekitar Kota Pontianak dari kelas 2 SD hingga bisa menyelesaikan di Fakultas Hukum, Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalbar.

Dalam berbagai kesempatan, dia pernah menceritakan kehidupan masa kecilnya.

"Dulu saya sering jualan koran di lingkungan Kantor Wali Kota Pontianak, dan suatu ketika pernah ditanya oleh Ir Pedi Natasuwarna yang dulu Kepala Dinas Pekerjaan Umum, nanti besar cita-citanya jadi apa, saya jawab wali kota dan beliau diam saja mungkin mikir `ngape` penjual koran mau jadi wali kota dan Alhamdulillah diaminkan malaikat," ujarnya.

Kini siapa yang menyangka, kalau seorang penjual koran di masa kecilnya bisa menjadi orang nomor satu di Kalbar.

Sementara itu, berdasarkan hasil hitung cepat LSI Denny JA, pasangan Sutarmidji-Norsan unggul dengan perolehan suara 58,29 persen, disusul pasangan Karolin-Gidot dengan perolehan dukungan suara 34,35 persen, dan pasangan Milton-Boyman dengan dukungan suara 7,37 persen.

Sutarmidji, lahir di Pontianak, 29 November 1962 atau berumur 56 tahun. Ia merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara yang lahir dari pasangan Tahir Abubakar dan Djaedah.

Ayahnya hanya seorang pegawai biasa di Departemen Agama di Pontianak, yang sebelumnya pernah aktif di Partai Masyumi.

Dia Mempunyai istri bernama Lismaryani, dan mempunyai tiga anak, dua perempuan yang sudah menyelesaikan kulihanya, dan satu yang paling bungsu laki-laki masih sekolah di tingkat SMP/sederajat.

Sutarmidji memulai karier politiknya dengan bergabung ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) atas ajakan dari Ali Akbar, sepupunya yang juga politikus PPP.

Pada Pemilu 1999, ia dipercaya sebagai anggota DPRD Kota Pontianak, kemudian pada tahun 2003, ia terpilih sebagai Wakil Wali Kota Pontianak mendampingi Buchary Abdurrachman.

Pada Pilkada 2008, Sutarmidji bersama Paryadi terpilih menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pontianak, periode 2008-2013.

Kemudian pada tahun 2013, Sutarmidji berpasangan dengan Edi Rusdi Kamtono kembali terpilih menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pontianak periode 2013-2018 hingga sekarang.

Sementara itu, berbagai prestasi yang diraih Kota Pontianak dibawah kepemimpinanya terutama dibidang infrastruktur jalan, pendidikan dan pelayanan kesehatan, yang menerapkan sistem rumah sakit tanpa kelas, pembangunan dan penataan taman-taman publik seperti Taman Alun-alun Kapuas dan Taman Digulis Untan Pontianak.

Kemudian di bidang birokrasi, demi mempercepat pelayanan, Sutarmidji menerapkan pelayanan satu atap dalam mengurus perizinan. Jumlah perizinan pun dipangkas dari yang sebelumnya 99 jenis izin hingga menjadi hanya 14 jenis perizinan.

Transparansi juga dikedepankan dengan mempublikasikan APBD Kota Pontianak serta penggunaan dana bantuan sosial melalui koran maupun situs Pemkot Pontianak.

Sejak tahun 2011, Laporan Keuangan Pemeritah Daerah (LKPD) Kota Pontianak selalu mendapat predikat WTP dari BPK. Pada tahun 2015, Kota Pontianak dianugerahi predikat pelayanan publik terbaik se-Indonesia oleh ORI.

Saat ini Pemkot Pontianak menjadi barometer tata kelola yang baik dalam pelayanan pada publik, seperti standar layanan publik terbaik, inovasi terbaik, pelayanan perizinan tercepat, efisiensi dan efektivitas anggaran dan lainnya.

"Hal itu, terus kami tumbuh kembangkan sehingga Pontianak ini bisa menjadi laboratorium tata kelola pemerintahan yang baik di Indonesia, dan masih banyak lagi prestasi yang diraih oleh Pemkot Pontianak semasa kepemimpinannya," kata Sutarmidji.

Kalbar baru

Dalam visi dan misi Cagub Kalba, Sutarmidji menyebut Kalbar baru yang lebih maju dan lebih sejahtera.

"Jika terpilih menjadi pemimpin Kalbar, maka kami akan melakukan reformasi tata kelola pemerintahan, yang sebelumnya sudah saya terapkan ketika memimpin Kota Pontianak, dan berkomitmen akan membangun dan meningkatkan sekitar 300 kilometer jalan di Kalbar dalam tiga sampai empat tahun sudah bisa diselesaikan," katanya.

Sutarmidji-Ria Norsan juga akan melakukan percepatan pembangunan, mulai dari infrastruktur jalan, bidang pendidikan, dan kesehatan, seperti yang saat ini sudah dirasakan oleh masyarakat Kota Pontianak.

Percepatan pembangunan tersebut berazaskan keadilan, sehingga semua kabupaten/kota harus mendapatkan perhatian, dengan tidak memandang suku, agama dan golongan, katanya.

Kemudian, Sutarmidji-Ria Norsan juga akan memfokuskan peningkatan IPM yang saat ini berada di peringkat 29 dari 33 provinsi, kemudian peningkatan pelayanan publik, meningkatkan nilai tukar petani.

Dalam mewujudkan Kalbar Baru tersebut, tentunya perlu percepatan pembangunan di bidang infrastruktur jalan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan air bersih yang merata serta berkeadilan.

Dengan membangun jalan-jalan yang menghubungkan desa-desa hingga tingkat kecamatan, kabupaten/kota hingga tingkat ibukota provinsi yakni Kota Pontianak, sehingga para petani bisa dengan mudah memasarkan hasil pertaniannya, ujarnya.

Kemudian, Sutarmidji-Ria Norsan juga berkomitmen dalam pemekaran Provinsi Kapuas Raya, menurunkan angka kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan yang merata.

Selain itu, juga meningkatkan bangunan RS Soedarso menjadi 12 lantai, dan menerapkan layanan tanpa kelas seperti yang diterapkan di RS Kota Pontianak, yang diprioritaskan untuk pemegang kartu BPJS dengan ruangan sendiri dengan standar pelayanan seperti kelas satu.


Baca juga: Round up - Hasil hitung cepat Sutarmidji-Norsan unggul Pilkada Kalbar
(A057/S027)

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar