counter

Pilkada 2018

Tugas berat menanti pemimpin baru Kaltim

Tugas berat menanti pemimpin baru Kaltim

Dokumentasi Presiden Partai Keadilan Sejahtera Sohibul Iman (kelima kiri) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (keempat kanan), Sekjen PKS Mustafa Kamal (ketiga kanan), politisi Rachmawati Soekarnoputri (ketiga kiri) dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso (keempat kiri) saat pengumuman bakal calon gubernur dan wakil gubernur PKS dalam Pilkada Serentak 2018 di Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu (27/12/2017). PKS berkoalisi dengan Gerindra dan PAN mengusung Sudrajat-Ahmad Syaikhu untuk Pilgub Jawa Barat, mantan Menteri ESDM Sudirman Said untuk Pilgub Jawa Tengah, Letjen Edy Rahmayadi dan Musa Rajeckshah untuk Pilgub Sumatera Utara, Isran Noor dan Hadi Mulyadi untuk Pilgub Kalimantan Timur, dan Muhamad Kasuba dan Majid Husen untuk Pilgub Maluku Utara. () (ANTARA /Puspa Perwitasari)

Samarinda (ANTARA News) - Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Timur 2018 memunculkan "kejutan" di sebagian kalangan masyarakat, setelah pasangan calon yang selama ini tidak begitu diunggulkan justru memimpin dalam perolehan suara.

Adalah pasangan nomor urut 3 Isran Noor dan Hadi Mulyadi yang berdasarkan hitung cepat versi sejumlah lembaga survei dan hitung cepat berdasarkan entri Model C1 yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) berada di posisi teratas.

Data hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada Rabu (27/6) mencatat Isran-Hadi meraih dukungan 28,98 persen, diikuti Rusmadi-Safaruddin (nomor urut 4) dengan 25,97 persen, Syaharie Jaang-Awang Ferdian Hidayat (nomor urut 2) dengan 25,28 persen, dan Andi Sofyan Hasdam-Rizal Effendi (nomor urut 1) dengan raihan 19,77 persen.

Keunggulan pasangan yang diusung koalisi Partai Gerindra, PKS dan PAN itu juga dipublikasikan lembaga survei Indo Barometer.

Isran-Hadi mengantongi dukungan 30,68 persen, Rusmadi-Safaruddin 24,71 persen, Jaang-Ferdi 22,55 persen, dan Hasdam-Rizal 22,07 persen.

Sementara data hitung cepat berdasarkan entri Model C1 yang dipantau Antara dari laman resmi Komisi Pemilihan Umum pada Kamis pukul 17.00 Wita, mencatat pasangan Isran-Hadi di urutan pertama dengan meraih 377.912 suara (31,39 persen).

Posisi kedua ditempati Rusmadi-Safaruddin yang meraih 300.075 suara (24,93 persen), Hasdam-Rizal di urutan ketiga dengan 263.483 suara (21,89 persen), dan pasangan Jaang-Ferdian dengan perolehan 262.413 suara (21,63 persen).

Data entri Model C1 itu terhimpun dari 6.532 tempat pemungutan suara (TPS) atau 89,64 persen dari total TPS di Pilkada Kaltim sebanyak 7.287.

Hasil resmi Pilkada Kaltim 2018 memang masih harus menunggu rekapitulasi perhitungan suara manual yang dilakukan KPU mulai tingkat kabupaten/kota hingga provinsi, tetapi kegembiraan sudah dirasakan para pendukung dan simpatisan Isran-Hadi.

"Syukur alhamdulillah, kami unggul. Tidak usah berlebihan menanggapi hasil `quick count`, biasa-biasa saja. Kami yakin hasil quick count ini adalah hasil akhir yang nantinya ditetapkan KPU," kata Isran kepada wartawan, Rabu (27/6) sore, menanggapi keunggulannya di sejumlah lembaga survei.

Kendati demikian, melejitnya perolehan suara Isran-Hadi cukup mengejutkan tiga pasangan yang menjadi pesaingnya. Hasil survei sebelum pilkada sempat mengunggulkan pasangan nomor urut 2 (Jaang-Ferdi) dan nomor urut 4 (Rusmadi-Safaruddin).

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kemudian hasil yang berbalik 180 derajat itu mengejutkan kedua paslon unggulan tersebut.

"Quick count (hitung cepat) itu kan belum bisa dijadikan dasar, nanti ada saatnya kita ucapkan selamat jika ada hasil resmi berdasarkan riil count dari KPU," ucap Safaruddin saat mendampingi Rusmadi dalam konferensi pers di Posko Pemenangan Rusmadi-Safaruddin di Samarinda, Rabu (27/6) sore.


Paling Siap

Menilik ke belakang saat tahapan penentuan bakal calon gubernur dan wakil gubernur untuk Pilkada Kaltim 2018, pasangan Isran Noor-Hadi Mulyadi bisa dibilang yang paling siap menghadapi persaingan merebut kursi Kaltim 1 dan 2 periode 2018-2023.

Isran-Hadi menjadi paslon pertama yang mendeklarasikan diri sebagai cagub-cawagub dengan dukungan koalisi Gerindra, PKS dan PAN. "Perkawinan" kedua figur ini berjalan mulus dan diumumkan sendiri oleh Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto bersama pimpinan partai koalisi.

Sementara tiga paslon lain sempat melalui drama politik yang pelik, bahkan penetapannya harus dilakukan menjelang penutupan pendaftaran, terutama pasangan Jaang-Ferdi (Demokrat, PPP dan PKB) dan Rusmadi-Safaruddin (PDI-P dan Hanura).

Ada pun Hasdam-Rizal yang diusung koalisi Partai Golkar dan Nasdem merupakan pasangan "dadakan", karena awalnya Andi Sofyan Hasdam mendaftar ke KPU Kaltim berpasangan dengan Nusyirwan Ismail (Wawali Samarinda).

Pada akhir Februari 2018, Nusyirwan Ismail meninggal dunia karena terkena serangan stroke dan koalisi Golkar-Nasdem sepakat mengusung Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi sebagai pengganti posisi cawagub.

Bergabungnya Rizal Effendi memunculkan angin positif bagi pasangan nomor urut 1, karena bisa mendongkrak perolehan suara di Kota Minyak. Namun, faktanya, dukungan suara pasangan ini kalah dari Rusmadi-Safaruddin.

Isran Noor bukan orang baru di dunia politik. Dia pernah menjadi wakil bupati Kutai Timur mendampingi Awang Faroek Ishak, hingga kemudian naik menjadi bupati ketika Awang Faroek memenangkan Pilkada Kaltim 2008.

Saat Pilkada Kutai Timur 2011, Isran Noor yang berpasangan dengan Ardiansyah Sulaeman kembali terpilih, tetapi mantan Ketua Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) itu tidak menyelesaikan kepemimpinannya hingga masa jabatan berakhir pada 2016.

Pria kelahiran Sangkulirang, Kutai Timur, pada 20 September 1957 itu, mengambil keputusan mengejutkan dengan mengundurkan diri dari jabatan bupati Kutai Timur pada 30 Maret 2015. Alasannya waktu itu ingin mengabdi di dunia pendidikan sebagai dosen.

Kini, Isran Noor akan kembali meneruskan rekam jejaknya terdahulu, yakni mengganti Awang Faroek Ishak yang akan mengakhiri dua periode masa jabatannya sebagai Gubernur Kaltim pada akhir 2018.

Isran didampingi politisi PKS Hadi Mulyadi yang sudah cukup lama malang-melintang di dunia politik.

Sebelum terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2014 dari daerah pemilihan Kaltim, pria kelahiran Samarinda pada 9 Mei 1968 yang berlatar belakang pendidik dan dosen di sejumlah perguruan tinggi itu, pernah menjadi wakil rakyat di DPRD Provinsi Kaltim.

Kedua sosok peraih suara terbanyak (sementara) Pilkada Kaltim itu memiliki karakter yang berbeda. Isran Noor terkenal lugas, tegas dan berani, sementara Hadi Mulyadi sosoknya lebih kalem.


Kaltim Berdaulat

Mengusung misi dan visi "Berani untuk Kaltim Berdaulat", pasangan Isran Noor-Hadi Mulyadi dalam program kampanye politiknya ingin membawa "Bumi Etam" menjadi lebih baik dan berdaulat dalam segala bidang, seperti birokrasi pemerintahan, pengelolaan pangan dan sumber daya alam serta lingkungan, juga berdaulat dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Sementara program yang diusung antara lain pemberantasan tuntas korupsi, penyelesaian banjir kota, pembukaan lapangan kerja, beasiswa untuk 6.500 penerima setiap tahun, perbaikan kualitas jalan, insentif guru dan tenaga kependidikan, serta pembukaan sejuta hektare lahan kritis, dan revegetasi 450 ribu hektare hutan lindung.

"Yang jelas, kami tidak punya program 100 hari. Kami akan bekerja setiap hari untuk kemajuan Kaltim, terutama program yang menyangkut pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan," kata Isran Noor kepada wartawan.

Ketika sudah resmi memimpin Provinsi Kaltim, Isran juga berencana mengevaluasi sejumlah proyek yang sedang dijalankan Gubernur Awang Faroek Ishak dengan tetap mempertimbangkan berbagai hal.

"Kalau memang proyek itu bermanfaat untuk rakyat Kaltim, tentu akan dilanjutkan. Kalau tidak, ya tidak usah dilanjutkan. Nanti semuanya akan kita lihat dan evaluasi," paparnya.

Terlepas dari itu, siapa pun yang menjadi gubernur dan wakil gubernur Kaltim lima tahun ke depan sebenarnya akan memikul tugas dan tanggung jawab yang cukup berat dalam menyelesaikan berbagai persoalan daerah.

Salah satunya mendongkrak kondisi perekonomian Kaltim yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, yang ditandai dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi dan defisit anggaran.

Belum lagi persoalan pemerataan pelayanan kesehatan, pendidikan dan akses transportasi, terutama di daerah-daerah pinggiran dan pendalaman, serta pembangunan berbagai infrastruktur pendukungnya yang masih tertinggal.

Pewarta: Didik Kusbiantoro
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pilkada Serentak 2018 dinilai berjalan baik

Komentar