counter

Menteri Siti Nurbaya deg-degan hadapi bulan rentan Karhutla

Menteri Siti Nurbaya deg-degan hadapi bulan rentan Karhutla

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. (ANTARA /Sigid Kurniawan)

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengaku deg-degan menghadapi musim kemarau pada Juli hingga September yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Sekarang kita di Juli dan ini bulan-bulan mulai deg-degan. Kita harus waspada biasanya puncaknya di minggu kedua September," katanya pada peluncuran Sistem Penyampaian Informasi Karhutla melalui pesan singkat (SMS Blast) di Jakarta, Rabu.

Siti berbagi pengalaman saat menghadapi karhutla hingga menimbulkan kabut asap yang cukup berat pada 2015. Daerah yang rawan karhutla antara lain Jambi, Riau, Palembang dan Kalimantan.

Saat itu Presiden Joko Widodo memimpin langsung penanganan karhutla di lapangan. Dari pengalaman tersebut melalui langkah-langkah yang diambil dirasakan saat ini tidak ada lagi kabut asap.

Terlebih lagi Indonesia akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan pesta olahraga se-Asia ke-18 pada 18 Agustus hingga 2 September 2018. Jakarta dan Palembang menjadi lokasi pelaksanaan Asian Games 2018.

Baca juga: Jelang Asian Games, Pemantauan daerah rawan karhutla ditingkatkan

Salah satu upaya penanganan karhutla yang dilakukan pemerintah adalah melalui sistem penyampaian informasi karhutla.

Sistem yang menggunakan pesan singkat (SMS Blast) tersebut diluncurkan Menteri LHK bersama Menteri Komunikasi dan Informatika Budiantara.

Bertepatan dengan pelaksanaan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang diharapkan sistem informasi melalui SMS Blast mampu memberikan edukasi bagi masyarakat untuk melakukan pencegahan karhutla yang ada di daerah mereka.

"Dengan SMS Blast kita mempersiapkan penanganan karhutla dan persiapan menghadapi Asian Games," ujar Siti.

Baca juga: KLHK mulai pantau titik panas secara berkala

Pewarta: Desi Purnamawati
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Menteri LHK ancam perusahaan pembakar lahan

Komentar