Yogyakarta intensifkan penggunaan pewarna alam untuk batik

Yogyakarta intensifkan penggunaan pewarna alam untuk batik

Perajin menjemur batik tulis yang menggunakan bahan alami seperti akar mentigi dan kulit mahoni untuk dijual dengan harga Rp300 ribu hingga 2 juta rupiah per potong di Munggut, Ngawi, Jawa Timur, Kamis (23/11/2017). Perajin mengaku batik tulis dengan bahan pewarna alami atau ramah lingkungan dalam beberapa bulan sedang digemari konsumennya yang berada di London, Brunei Darussalam serta Tokyo. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Yogyakarta (ANTARA News) - Penggunaan pewarna alam untuk menghasilkan batik yang ramah lingkungan terus diintensifkan sebagai salah satu cara mempertahankan predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.

ini  tahun terakhir penilaian dari World Craft Council (WCC) terkait predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Harapannya, predikat itu jangan sampai lepas. Salah satu upayanya adalah memperluas penggunaan pewarna alam untuk batik, kata Konsultan Batik Pewarna Alam Hendri Suprapto di sela pelatihan batik tulis di Embung Langensari Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, penggunaan pewarna alam untuk menghasilkan batik yang ramah lingkungan menjadi salah satu indikator penilaian dari WCC.

Oleh karena itu, lanjut dia Yogyakarta harus bisa membuktikan hal tersebut dengan memperbanyak penggunaan pewarna alam oleh perajin batik.

Ia menyebutkan penggunaan pewarna kimia untuk batik memiliki sejumlah dampak buruk terhadap lingkungan bahkan bisa mempengaruhi kesehatan manusia.

Banyak bahan di sekitar masyarakat yang bisa digunakan sebagai sumber pewarna alam untuk menghasilkan batik yang tidak kalah berkualitas, tambahnya.

Sejumlah tanaman yang bisa diolah untuk menghasilkan pewarna alam di antaranya, pohon mangga untuk warna kuning, pohon indigofera untuk warna biru, pohon jambu biji untuk warna coklat, jambe untuk warna merah.

Sedangkan untuk menghasilkan warna lain, tinggal mengombinasikan warna-warna dasar yang sudah ada, katanya.

Pelatihan batik tulis di Embung Langensari merupakan hasil kerja sama antara Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta. Seluruh peserta pelatihan adalah warga di sekitar embung.

UKDW dan Bappeda Kota Yogyakarta bahkan sudah melakukan penelitian untuk mengembangkan embung tersebut sebagai eco culture tourism atau wisata budaya berwawasan lingkungan.

Ketua Peneliti UKDW Kristian Oentoro mengatakan, melalui pelatihan selama tiga hari, warga bisa mengembangkan kemampuan untuk menghasilkan batik ramah lingkungan.

Embung Langensari juga bisa dijadikan sebagai tempat pembelajaran atau workshop batik tulis pewarna alam. Harapannya, keberadaan embung bisa memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, ujarnya.

Baca juga: Warna warni batik ramah lingkungan

Baca juga: Batik ramah lingkungan berpewarna dari limbah

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar