Lebih 72 persen Daraa, Suriah, kembali ke dalam kekuasaan pemerintah

Lebih 72 persen Daraa, Suriah, kembali ke dalam kekuasaan pemerintah

Warga setempat yang mengungsi dari provinsi Deraa tiba dekat wilayah pendudukan Israel, Golan Heights di Quneitra, Suriah, Jumat (29/6/2018). (REUTERS/Alaa Al-Faqir)

Damaskus, Suriah, (ANTARA News) - Militer Suriah telah memperluas kekuasaannya sampai lebih 72 persen dari seluruh wilayah Daraa di Suriah Selatan, demikian laporan kantor berita resmi Suriah, SANA, Ahad (8/7).

Menurut laporan tersebut, militer merebut kota kecil Um Al-Mayathen, sekitar 10 kilometer di sebelah timur Ibu Kota Provinsi Daraa, serta Batalion Pertahanan Udara di pinggir barat Daraa setelah pertempuran melawan kelompok gerilyawan.

Um Al-Mayathen terletak di sebelah utara Kota Kecil Nasib, yang berada di dekat tempat penyeberangan perbatasan Nasib antara Suriah dan Jordania.

Operasi kedua di Batalion Pertahanan Udara juga meluas ke jalan menuju Nasib.

Tempat Penyeberangan Nasib di pinggir tenggara Daraa jatuh ke dalam kekuasaan gerilyawan pada 2015 dan kembali ke dalam kendali militer pada Jumat, setelah aksi militer dua-pekan di Daraa.

Direbutnya tempat penyeberangan Nasib menjamin keamanan jalan antara Ibu Kota Suriah, Damaskus, dan Ibu Kota Jordania, Amman.

Namun, perbatasan itu telah ditutup sejak gerilyawan merebutnya pada 2015. Seorang perwira militer Suriah mengatakan kepada Xinhua, pembukaan tempat penyeberangan memerlukan keputusan politik dari kedua negara.

Sementara itu, operasi militer berlanjut di Daraa Barat setelah beberapa kelompok gerilyawan di pinggir barat Daraa menolak kesepakatan dukungan Rusia untuk menyelesaikan keadaan di provinsi di dekat Jordania tersebut.

Militer sudah merebut hampir semua kota kecil dan desa di pinggir timur Daraa baik melalui pertempuran maupun melalui kesepakatan perujukan, yang memungkinkan militer memasuki banyak daerah tanpa pertempuran sebab gerilyawan menerima baik untuk menyerahkan senjata mereka dan memasuki perujukan dengan pasukan pemerintah.

Tapi di pinggir barat, beberapa kelompok gerilyawan menolak kesepakatan tersebut dan malah membentuk apa yang dinamakan Tentara Selatan guna menghadapi militer Suriah.

Di pihak oposisi, Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia mengatakan pemerintah telah menguasai 72,4 persen Daraa sementara kekuasaan gerilyawan telah menyusut jadi 21 persen, dan menambahkan.,  satu kelompok gerilyawan yang bersekutu dengan IS menguasai 6,6 persen wilayah Daraa.

Daraa memiliki kepentingan simbolis sebab wilayah itu adalah tempat kelahiran perang Suriah, yang meletus pada 2011. Menguasainya akan menjadi kemenangan besar buat militer Suriah baik secara simbolis maupun militer sebab gerilyawan telah menggunakan perbatasan Jordania untuk memasukkan senjata dan petempur sepanjang perang Suriah.

(Uu.C003)

Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar