Bukan sepakbola yang pulang kampung, tapi Inggris

Bukan sepakbola yang pulang kampung, tapi Inggris

Ekspresi kekecewaan para pemain tim nasional Inggris selepas kekalahan 1-2 dari Kroasia lewat babak tambahan dalam semi final Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, Kamis (12/7/2018) dini hari WIB. (AFP/Manan VATSYAYANA)

Jakarta (ANTARA News) - "Footbal's Coming Home!" atau "It's coming home!",  demikian jargon yang selalu didengung-dengungkan para penggemar tim nasional Inggris mengiringi kiprah Pasukan Tiga Singa di Piala Dunia 2018.

Home alias rumah alias kampung halaman tidak lepas dari klaim bahwa Inggris adalah tanah kelahiran olahraga menyepak si kulit bundar di era modern.

Badan sepak bola dunia, FIFA, mengakui bahwa permainan sejenis sepak bola tertua sudah ditemukan di daratan Tiongkok bernama cuju dan bahkan telah dilengkapi aturan main di era Dinasti Han yang berkuasa pada tahun 206-220 sebelum masehi.

Lantas di daratan Benua Biru, peradaban Yunani kuno dan Romawi kuno memiliki permainan sejenis yakni phaininda dan epyskiros di Yunani dan harpastum di Romawi. Meski demikian ketiganya mengikut sertakan lebih banyak penggunaan tangan dalam memainkannya ketimbang serupa sepak bola modern.

Permainan serupa yang lebih banyak melibatkan penggunaan tangan juga muncul di permainan kuno kemari di Jepang, chuk-guk di Korea dan woggabaliri di Australia.

Maka keberadaan aturan sepakbola modern yang dikembangkan di Kampus Trinity, Cambridge, Inggris --dikenal juga sebagai Aturan Cambridge-- pada 1848, kelahiran klub sepakbola modern pertama Sheffiled FA pada 1867 dan federasi sepak bola pertama, FA, pada 1863, praktis menjadi alasan kuat bagi Inggris untuk mengklaim mereka sebagai negara kelahiran sepak bola.

Kendati demikian, status sebagai tanah kelahiran sepak bola tak membuat Inggris menjadi tim tersukses di turnamen-turamen sepak bola baik tingkat Eropa maupun dunia.

Di Piala Dunia, Inggris baru satu kali menjadi juara pada 1966 kala berstatus tuan rumah. Sedangkan di Piala Eropa, catatan terbaik lagi-lagi dicatatkan di kandang sendiri kala menggelar edisi 1996, namun langkah mereka hanya sampai semi final.

Oleh karena itu, jargon "It's coming home!" seolah menjadi pendamping Inggris di manapun mereka berada, bak ingin mengatakan sudah waktunya sepak bola kembali ke kampung halaman mereka bersama trofi Piala Dunia 2018.

Baca juga: Modric: Media Inggris terlalu meremehkan Kroasia

Alih-alih sepak bola yang pulang kampung ke Inggris, justru skuat tim nasional Inggris dipastikan akan berhak pulang kampung lebih awal setelah langkah mereka terhenti di semi final dikalahkan Kroasia 1-2 lewat babak tambahan pada Kamis dini hari WIB.

Para penggemar Inggris, baik yang menonton langsung di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, maupun yang menyelenggarakan nonton bersama di Lapangan Hyde, London, bersorak sorai kegirangan ketika Kieran Trippier dengan cepat membawa Inggris unggul lewat eksekusi tendangan bebas terukurnya ke gawang Kroasia.

Bahkan, suasana perayaan di Lapangan Hyde beredar viral di media sosial, memperlihatkan bagaimana hujan bir mengguyur dari gelas-gelas yang ikut terhentak bersamaan dengan ekspresi dan gestur kegembiraan atas gol Trippier.

Namun sejak gol itu, para penyerang besutan Gareth Southgate lebih banyak terjerembab dalam jebakan offside yang disiapkan rapatnya barisan pertahanan Kroasia.

Baca juga: Fakta-fakta kemenangan Kroasia atas Inggris

Di tengah optimisme yang masih melanda Inggris, Kroasia bangkit melawan di babak kedua, sebuah gol dari Ivan Perisic berhasil membuat kedudukan kembali imbang pada menit 68. Dua menit berselang, optimisme para penggemar Inggris hampir digerus habis ketika John Stones gagal menyapu bola dan Perisic menyambarnya hanya demi ditolak tiang gawang.

Sementara optimisme kian menipis, penampilan Inggris seolah kehilangan sentuhan serangan yang bisa memantik kemenangan termasuk ketika laga harus dilanjutkan ke babak tambahan.

Dalam keadaan tak pasti itu, penyerang Juventus Mario Mandzukic muncul dan menjadi penentu nasib Inggris. Sebuah kelalaian barisan pertahanan membuat Mandzukic berada di belakang Stones, memiliki ruang tembak terbuka, menaklukkan kiper Jordan Pickford, dan memastikan satu tiket ke partai final bagi Kroasia.

Baca juga: Penyesalan Southgate atas kekalahan Inggris

Inggris memang masih memiliki satu laga perebutan tempat ketiga melawan Belgia, yang merupakan pertandingan ulang laga pamungkas penyisihan Grup G saat mereka kalah 0-1 demi jalur yang tak lebih terjal.

Namun apapun hasil laga tersebut, Inggris harus pulang kampung dan tentunya tanpa membawa serta trofi Piala Dunia.

Terbaik dalam 28 tahun terakhir
Meski menggaungkan diri sebagai kampung halaman sepakbola, Inggris nyatanya tak bisa berbicara banyak dalam pentas Piala Dunia.

Tidak ambil bagian di tiga edisi pertama, Inggris baru turut serta pada edisi 1950 di Brazil.

Lantas setelah menjadi juara di edisi 1966, putaran final Piala Dunia kelima yang diikuti, Inggris sempat gagal masuk putaran final dua edisi beruntun pada 1974 dan 1978, yang kembali terjadi pada 1994.

Laga perebutan tempat ketiga untuk Piala Dunia 2018 merupakan capaian terbaik bagi Inggris di putaran final Piala Dunia dalam 28 tahun terakhir.

Setidaknya capaian itu pasti menyamai prestasi terjauh mereka dalam kurun waktu tersebut juga laga perebutan tempat ketiga pada Piala Dunia 1990 di Italia, namun kalah 1-2 dari tim tuan rumah.

Jika Inggris bisa membalaskan kekalahan 0-1 dari Belgia di fase penyisihan Grup G kala kedua tim melakoni perebutan tempat ketiga di Stadion Saint Petersburg, Sankt Petersburg, Rusia, Sabtu (14/7), maka skuat yang dipimpin penyerang Tottenham Hotspur Harry Kane dipastikan menorehkan prestasi terbaik kedua di pentas piala dunia sepanjang sejarah Inggris, setelah meraih trofi Jules Rimet pada 1966.

Baca juga: Inggris kalah, Harry Kane merasa patah hati

Di sisi lain, bagi Kane sendiri, ia berpeluang meraih gelar pribadi sebagai pencetak gol terbanyak turnamen, dengan catatan sementara enam gol yang di atas kertas hanya bisa dikejar oleh lawannya di perebutan tempat ketiga penyerang Belgia Romelu Lukaku yang sudah mengemas empat gol.

Selain itu dua penyerang Prancis Antoine Griezmann dan Kylian Mbappe yang akan berlaga di final dan saat ini sudah mengoleksi tiga gol juga berpeluang menyamai atau menyalip Kane. Dengan catatan keduanya berhasil menyamai atau bahkan melewati rekor legenda Inggris Geoff Hurst yang mencetak trigol di final Piala Dunia 1966.

Oleh Gilang Galiartha
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar