Penurunan titik api hingga 96,5 persen di periode 2015-2017

Penurunan titik api hingga 96,5 persen di periode 2015-2017

Peta sebaran titik panas (titik merah) di kawasan Pulau Sumatera hasil pantauan sensor Satelit Terra (satelit.bmkg.go.id)

Penghargaan diberikan dalam bentuk pujian, `applause', disebutkan dalam pidato Perdana Menteri Norwegia."
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah mengawal ketat wilayah rawan kebaran hutan dan lahan (karhutla) hingga berhasil menurunkan jumlah titik api (hot spot) hingga 96,5 persen di seluruh Indonesia dalam periode 2015-2017.

"Berdasarkan data hasil pantauan satelit milik NOAA, jumlah titik api di 2015 mencapai 21.929, sedangkan di 2016 menurun menjadi 3.915. Pada 2017, jumlah titik api kembali menurun menjadi 2.257," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raffles B Panjaitan di Jakarta, Kamis.

KLHK mencatat luas area hutan dan lahan yang terbakar di 2015 mencapai 2.611.411 hektare (ha). Angka ini menurun menjadi 438.360 ha di 2016, lalu turun lagi menjadi 165.464 ha di 2017.

"Sejak 2016, perusahaan tidak berani lagi melakukan pembukaan lahan dengan membakar, ini berpengaruh. Kalau pun ada yang terbakar itu hanya spot-spot kecil saja karena kelalaian," ujar Raffles.

Salah satu hal yang, menurut dia, masih menjadi tantangan untuk mengendalikan karhutla di 2018 yakni pembukaan lahan dengan cara membakar dalam luasan kecil oleh masyarakat yang kemudian merambat ke bagian lain. Butuh pendampingan dan waktu intensif untuk proses penyadartahuan masyarakat guna mengatasi persoalan ini.

Pengendalian karhutla ini terus dilakukan, terlebih menjelang pelaksanaan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Raffles mengatakan pelaksanaan patroli terpadu pencegahan karhutla dilakukan di 352 pokso desa yang mampu menjangkau 1121 desa rawan karhutla.

Sejumlah inovasi diupayakan untuk mengatasi karhutla yang bisa menimbulkan kabut asap, yakni pengembangan metode monitoring melalui cctv thermal di wilayah rawan terbakar. Dan pemanfaatan teknologi informatika dan telekomunikasi (TIK) berupa Sistem Informasi Kebakaran Hutan dan Lahan Melalui SMS (SMS Blast) juga baru diluncurkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bersama Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.


Apresiasi

Keberhasilan pengendalian karhutla sekaligus deforestasi yang dilakukan pemerintah telah mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan internasional. Salah satunya dari Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg dalam Oslo Tropical Forest Forum pada Juni 2018.

"Penghargaan diberikan dalam bentuk pujian, `applause', disebutkan dalam pidato Perdana Menteri Norwegia," kata Plt Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Ida Bagus Putera Parthama yang juga hadir sebagai pembicara dalam Oslo Tropical Forest Forum.

Sebelumnya apresiasi juga disampaikan oleh Menteri Lingkungan dan Sumber Air Singapura Masagos Zulkifli atas keberhasilan Indonesia mengatasi persoalan kabut asap lintas batas (transboundary haze) dalam "The 5th Singapore Dialogue on Sustainable World Resources" pada Mei 2018.

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar