Hidung Belang dalam alunan orkestra

Hidung Belang dalam alunan orkestra

Jakarta City Philharmonic Concert. (Photo by Eva Tobing)

Jakarta (ANTARA News) - Tema Hidung Belang menjadi dasar dari pementasan terbaru orkes kota Jakarta City Philharmonic dengan Dewan Kesenian Jakarta di Teater Ismail Marzuki, Rabu (11/7) malam. 

Konser ini menampilkan adaptasi kisah si Hidung Belang Don Juan dalam interpretasi komposer dan gaya musik Mozart, Gluck dan Strauss dengan pengaba Budi Utomo Prabowo dan Vincent Wiguna.

"Mengapa Hidung Belang? Ini adalah tema yang suka berulang di sejarah, tentang Don Juan yang suka merayu perempuan-perempuan untuk menjadi kekasih sesaat," kata musikolog Aditya Pradana Setiadi di atas panggung sebelum pementasan dimulai.

Konser ke-14 ini dibuka dengan Overtur Don Giovanni, K.527 karya Wolfgang Amadeus Mozart yang mengisahkan tentang kehidupan Don Giovanni alias Don Juan, bangsawan playboy yang gemar menggoda perempuan, lalu kemudian diseret ke neraka oleh patung marmer jelmaan seseorang yang dibunuhnya.

Karya selanjutnya adalah Etude untuk Orkestra karya Michael Asmara. Karya yang merangkum sejumlah teknik yang menimbulkan suara bising dan pengang ini memberi kesan musik yang acak, kadang-kadang serupa dengan instrumental di adegan-adegan film horor.

Selanjutnya, Suita Don Juan, Wq. 52 dari Christoph Willibald Gluck yang dikolaborasikan dengan tarian yang dibuat oleh koreografer Siko Setyanto.

Para penari memberikan pemaparan visual mengenai kehidupan Don Juan, namun dalam versi sebaliknya. Bukan Don Juan si pria penggoda, tapi perempuan yang digila-gilai banyak lelaki.

Siko, sebelum pertunjukan, mengatakan perubahan itu dibuat tak cuma untuk membuat gebrakan, tetapi karena jumlah penari perempuannya lebih sedikit ketimbang penari lelaki.

Padahal, Don Juan itu harusnya dikelilingi para perempuan. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengubahnya jadi perempuan yang dikelilingi laki-laki.

Penyanyi bariton Dody Soetanto mengiringi alunan musik Madah Kelana Sang Cantrik dari Gustav Mahler. Karya ini menampilkan dinamika perasaan sang pengelana yang sedih ditinggal kekasih hati, ditandai dengan melodi penuh duka. 

Sejenak, hatinya kembali berseri-seri menikmati keindahan alam, terdengar alunan musik yang terdengar seperti burung saling bersahutan, tapi tiba-tiba musik berubah jadi suram lagi, si pengelana kembali teringat pada kenangan pahit, membuat kebahagiaannya sirna.

Don Juan, Op.20 karya Richard Strauss menutup pertunjukan Jakarta City Philharmonic yang dibentuk atas kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Dewan Kesenian Jakarta untuk menyediakan kebutuhan kultural kota Jakarta.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar